Salah satu tempat bersejarah yang sering dikunjungi para wisatawan baik dari Jepang maupun wistawan asing adalah kochi castle. Kochi castle memang tidak sebesar Osaka castle. Tapi kochi castle merupakan salah satu bangunan bersejarah yang telah didirikan sejak 400 tahun yang lalu. Ada beberapa hal yang kita temukan ketika kita berkeliling di sekitar kochi castle, dan masing-masing memiliki sejarah tersendiri.
Patung Yamauchi Katsutoyo
Katsutoyo awalnya merupakan Jenderal di Toyotomi Hideyoshi, akan tetapi dia memberontak dan memenangkan peperangan pada tahun 1600 M. Sebagai hadiahnya dia mendapatkan kekuasaan di daerah Tosa dan menjadi Raja Tosa yang pertama dan mendirikan Kochi Castle. Lokasi patung Raja ini ada di bagian bawah saat pertama kali mau masuk ke Kochi castle
Ote-mon atau Gerbang utama
Adalah pintu pertama ketika memasuki Kochi Castle, dahulu dinamakan O-gomon atau gerbang besar akan tetapi sekarang diganti menjadi Ote-mon gerbang utama. Dahulu masyarakat umum seperti petani dan pedagang dilarang memasuki Kochi Castle. Sekarang siapa aja boleh masuk Kochi castle, tidak ada perbedaan, semuanya sama, kita harus berterimakasih kepada Ryoma Sakamoto yang telah memperjuangkan persamaan dan menghilangkan perbedaan kelas di masyarakat Jepang.
Ukiran pada batu
Banyak ditemukan ukiran-ukiran huruf jepang di dinding-dinding Kochi Castle. Ukiran ini dibuat di dinding Ote-mon, dan dinding yang lain dengan batu yang besar-besar.
Patung Itagaki Taisuke
Itagaki merupakan penasihat keluarga Yamauchi, dia mempunyai pengaruh penting dalam restorasi meiji dan modernisasi Jepang, dia hidup pada masa yang sama dengan Ryoma Sakamoto. Dia adalah pengacara pertama di Jepang dan juga pemimpin pengakan hak asasi manusia. Dia dibunuh ketika mengkampanyekan hak asasi manusia, pernyataannya yang terkenal “Itagaki boleh mati tetapi kemerdekaan akan tetap hidup. Selain itu dia juga ahli dalam memainkan pedang dan jagoan sumo. Lokasi patung ini ada di dekat gerbang masuk pertama.
Patung Istri Katsutoyo (Chiyo)
Chiyo menikah dengan Katsutoyo ketika berumur 17 tahun, ketika itu saat pasukan sedang melakukan latihan dan Jendral Katsutoyo sebagai pemimpin pasukan mengesankannya sehingga dia jatuh cinta dan menikah dengan Jenderal Katsutoyo. Patung ini didirikan sebagai suatu penghormatan kepada seorang wanita atas jasanya mendampingi Katsutoyo-Raja Tosa.
Batu saluran air
Kochi merupakan salah satu daerah yang sering terjadi hujan dan mengalami banjir, untuk mengalirkan air dan menjaga agar kastle tidak kebanjiran maka dibuatlah saluran air dari batu dan mengalirkannya ke sungai.
Batu Pertahanan
Ahli batu terkenal yang bernama Anoshu menyusun dan membuat batu pertahanan menggunakan metode nozura-zumi. Batu ini sangat kuat, walaupun pernah terjadi gempa besar yang mengguncang kochi pada tahun 1946, batu ini tidak mengalami kerusakan sedikitpun.
Shinobigaeshi
Apabila penyerangan secara frontal sulit dilakukan maka biasanya musuh akan mencoba mengirip penyusup, pencuri ataupun ninja secara diam-diam. Kalau ada penyusup yang mencoba masuk memanjat kochi castle maka harus berhati-hati karena ada besi-besi tajam di sekeliling bangunan. Selain itu dari lubang yang ada di dinding para prajurit akan batu-batu. Pertahanan Kochi castle dirancang sangat baik sehingga tidak ada satu sisi-pun yang dapat ditembus musuh maupun penyusup.
Honmaru atau Menara utama
Akhirnya setelah melewati beberapa tangga yang cukup banyak dan tinggi sampai juga kita di menara utama. Diantara semua castle yang ada di jepang, hanya Kochi Castle yang memiliki menara utama, Nishi dan Higashi Tamon (teras/halaman) dengan dinding batu di sebelah barat dan timurnya. Jodan no Ma adalah ruangan dimana sang raja menerima tamunya sedangkan di sebelah kirinya adalah Musha Kakushi tempat para prajurit samurai berjaga. Kondisi di dalam menara utama masih asli dan belum ada perubahan, kayu penyangga, pintu, lantai, dinding masih sama dengan 400 tahun lalu saat bangunan ini pertama kali didirikan, dahsyat…
Disalin dari brosur kochi Castle
Selasa, 28 September 2010
“Khairun naasi anfa’uhum linnaas”
Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah salah satu hadist yang sering kita dengar. Aku ingin sekali mengamalkan hadist tersebut, banyak hal yang ingin kulakukan agar kehadiranku ini dapat meberikan manfaat bagi orang lain, kalaupun tidak dapat memberikan manfaat setidaknya kehadiranku janganlah mengganggu atau membuat orang lain tidak nyaman.
Sejak mulai bekerja di DKP pada tahun 2006, saat itu Dharma Wanita DKP menyelenggarakan donor darah. Waktu itu motivasiku hanya ikut-ikutan dan biar dapat makanan gratis. Tapi setelah aku resapi dan aku maknai ternyata donor darah ini memberikan manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan, maka mulai saat itu aku bertekad untuk selalu mendonorkan darahku setiap 3 bulan. Sebenarnya sejak kedatanganku di Jepang aku udah sampaikan kepada koordinatorku bahwa aku ingin donor darah di Jepang, karena memang sudah saatnya aku donor darah. Terakhir kali aku donor darah di Indonesia bulan april 2010, mungkin karena lupa atau sibuk dan juga adanya bulan Ramadhan maka baru kemaren 15 September 2010 keinginanku untuk donor darah terwujud, senang sekali rasanya, karena kehadiranku disini memberi manfaat dan aku dapat mengamalkan hadist tersebut.
Pada prinsipnya di Jepang tidak dibedakan antara pendonor darah orang Jepang dengan orang asing, semua perlakuannya sama. Akan tetapi sebelum melakukan donor darah ada beberapa prosedur yang disyaratkan seperti mengisi kuisioner dan menjawab pertanyaan seputar riwayat penyakit yang pernah kita derita, hal ini juga disyaratkan di Indonesia seperti kita ditanya tentang penyakit kuning, stroke, tekanan darah tinggi, kanker, HIV atau yang terkait dengan virus. Cuma perbedaannya kalau di Indonesia kita mengisi di kertas form yang disediakan PMI, kalau di Jepang kita mengisinya di komputer dan setelah selesai langsung di print.
Prosedur selanjutnya kita akan dipanggil untuk masuk ke ruang dokter, disini kita ditanya seputar kesehatan kita, apakah kita mengkonsumsi obat-obatan, minum-minuman beralkohol atau pernah sakit beberapa minggu yang lalu. Kita akan diperiksan tekanan darahnya dan akan dicek kesehatannya. Inilah yang juga merupakan keuntungan seorang pendonor darah, karena secara tidak langsung dia telah melakukan “general chek-up” terhadap tubuhnya, kalau dirasa kita kurang sehat atau dokter tidak yakin maka kita akan disuruh pulang, barangkali disuruh untuk mengurangi konsumsi makanan berlemak, atau disarankan untuk beristirahat yang cukup. Karena orang yang akan mendonorkan darahnya harus benar-benar dalam kondisi vit dan keadaan sehat.
Kalau dokter nyatakan oke maka kita masuk ruang pemeriksaan darah untuk diuji apakah darah kita memenuhi syarat atau tidak. Prosedurnya disini beda dengan di Indonesia, kalau di PMI Salemba, periksa darah dulu baru ke dokter kalau di Jepang ke dokter dulu baru darahnya di periksa. Setelah diambil sampel darahnya untuk di periksa kemudian kita akan naik di kursi donor darah. Disini hampir sama dengan di Indonesia cuma kalo di Jepang di sediakan televisi di depan kursi donor darahnya jadi sambil menunggu darah kita diambil kita dapat menonton televisi. Lumayan juga nih, karena kalau untuk donor darah paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.
Susternya baik dan ramah, dia berusaha mengajak ngobrol dan bercakap-cakap denganku, sayangnya dia menggunakan bahasa Jepang sedangkan aku hanya tau sedikit aja bahasa Jepang kalau diajak ngobrol pake bahasa Inggris dianya kagak ngerti, ya udahlah, aku ngangguk-ngangguk aja he…he…
Jumlah darah yang di donorkan berbeda antara di Indonesia dengan di Jepang. Kalau di Indonesia untuk yang memiliki bobot lebih dari 60 Kg maka akan diambil darahnya 350 ml sedangkan yang dibawah dari 60 Kg diambil 250 ml. Kalau di Jepang dengan bobot dibawah 50 kg diambil sebanyak 200ml sedangkan diatas 50 kg diambil 400ml. Jadi hari itu aku diambil darahnya 400 ml. Alhamdulilah, semoga aja darahku bermanfaat untuk kemanusiaan, amiin…
Waktu sedang donor darah salah satu susternya menanyakan “kalau di Indonesia katanya setelah selesai donor darah diberikan makanan ya?” aku jawab “iya memang PMI Indonesia menyediakan roti dan susu untuk yang selesai donor darah, tapi kalau disini ketentuannya berbeda ya, tidak usah repot-repot menyediakan untukku”, “bagiku bisa mendonorkan darahku aja aku udah senang” lanjutku, mereka-pun tersenyum. Kalau di Jepang hanya di sediakan minuman dan biskuit yang dapat kita ambil di vending machine segara gratis, selain itu juga di sediakan banyak buku-buku dan komik buat mereka yang selesai mendonorkan darahnya, sambil menunggu beberapa menit untuk pemulihan kondisi tubuh.
Biasanya di Indonesia setelah selesai donor darah maka kartu kita akan di cap tanggal dan tempat kita melakukan donor darah selain itu akan diberikan kertas pemberitahuan kapan kita akan mendonor darah berikutnya. Kalau di Jepang sistem kartunya seperti ATM ada pin-nya dan berisi semua data tentang diri kita, tanggal kita melakukan donor darah sudah tercantum, berapa darah kita yang didonorkan dan kapan waktu selanjutnya jika kita ingin mendonorkan darahnya. Sayangnya mungkin aku sudah pulang ke Indonesia untuk tanggal berikutnya karena tercantum 8 desember 2010, tak apalah, nanti donor darah di Indonesia juga bisa.
Buat temen-temen yang belum pernah donor darah, semoga menjadi terbuka hatinya dan tergerak untuk mendonorkan darahnya, kalian udah tahu kan hadistnya, tinggal mengamalkannya. Buat yang udah pernah/ udah sering mendonorkan darahnya semoga jadi tambah bersemangat dan terus rutin mendonorkan darahnya, semoga kelak ini akan menjadi catatan amal yang baik bagi kita, amiiin.
Karena pada dasarnya sel darah merah dalam tubuh kita hanya bertahan selama 120 hari dan kemudian akan dihancurkan yang selanjutnya tubuh akan membentuk sel darah merah yang baru. Kadang-kadang darah kotor yang ada dalam tubuh kita dikeluarkan dalam bentuk jerawat dan bisul, maka daripada keluar dalam bentuk itu lebih baik kita sumbangkan agar lebih bermanfaat bagi kita dan juga bagi orang lain.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Sejak mulai bekerja di DKP pada tahun 2006, saat itu Dharma Wanita DKP menyelenggarakan donor darah. Waktu itu motivasiku hanya ikut-ikutan dan biar dapat makanan gratis. Tapi setelah aku resapi dan aku maknai ternyata donor darah ini memberikan manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan, maka mulai saat itu aku bertekad untuk selalu mendonorkan darahku setiap 3 bulan. Sebenarnya sejak kedatanganku di Jepang aku udah sampaikan kepada koordinatorku bahwa aku ingin donor darah di Jepang, karena memang sudah saatnya aku donor darah. Terakhir kali aku donor darah di Indonesia bulan april 2010, mungkin karena lupa atau sibuk dan juga adanya bulan Ramadhan maka baru kemaren 15 September 2010 keinginanku untuk donor darah terwujud, senang sekali rasanya, karena kehadiranku disini memberi manfaat dan aku dapat mengamalkan hadist tersebut.
Pada prinsipnya di Jepang tidak dibedakan antara pendonor darah orang Jepang dengan orang asing, semua perlakuannya sama. Akan tetapi sebelum melakukan donor darah ada beberapa prosedur yang disyaratkan seperti mengisi kuisioner dan menjawab pertanyaan seputar riwayat penyakit yang pernah kita derita, hal ini juga disyaratkan di Indonesia seperti kita ditanya tentang penyakit kuning, stroke, tekanan darah tinggi, kanker, HIV atau yang terkait dengan virus. Cuma perbedaannya kalau di Indonesia kita mengisi di kertas form yang disediakan PMI, kalau di Jepang kita mengisinya di komputer dan setelah selesai langsung di print.
Prosedur selanjutnya kita akan dipanggil untuk masuk ke ruang dokter, disini kita ditanya seputar kesehatan kita, apakah kita mengkonsumsi obat-obatan, minum-minuman beralkohol atau pernah sakit beberapa minggu yang lalu. Kita akan diperiksan tekanan darahnya dan akan dicek kesehatannya. Inilah yang juga merupakan keuntungan seorang pendonor darah, karena secara tidak langsung dia telah melakukan “general chek-up” terhadap tubuhnya, kalau dirasa kita kurang sehat atau dokter tidak yakin maka kita akan disuruh pulang, barangkali disuruh untuk mengurangi konsumsi makanan berlemak, atau disarankan untuk beristirahat yang cukup. Karena orang yang akan mendonorkan darahnya harus benar-benar dalam kondisi vit dan keadaan sehat.
Kalau dokter nyatakan oke maka kita masuk ruang pemeriksaan darah untuk diuji apakah darah kita memenuhi syarat atau tidak. Prosedurnya disini beda dengan di Indonesia, kalau di PMI Salemba, periksa darah dulu baru ke dokter kalau di Jepang ke dokter dulu baru darahnya di periksa. Setelah diambil sampel darahnya untuk di periksa kemudian kita akan naik di kursi donor darah. Disini hampir sama dengan di Indonesia cuma kalo di Jepang di sediakan televisi di depan kursi donor darahnya jadi sambil menunggu darah kita diambil kita dapat menonton televisi. Lumayan juga nih, karena kalau untuk donor darah paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.
Susternya baik dan ramah, dia berusaha mengajak ngobrol dan bercakap-cakap denganku, sayangnya dia menggunakan bahasa Jepang sedangkan aku hanya tau sedikit aja bahasa Jepang kalau diajak ngobrol pake bahasa Inggris dianya kagak ngerti, ya udahlah, aku ngangguk-ngangguk aja he…he…
Jumlah darah yang di donorkan berbeda antara di Indonesia dengan di Jepang. Kalau di Indonesia untuk yang memiliki bobot lebih dari 60 Kg maka akan diambil darahnya 350 ml sedangkan yang dibawah dari 60 Kg diambil 250 ml. Kalau di Jepang dengan bobot dibawah 50 kg diambil sebanyak 200ml sedangkan diatas 50 kg diambil 400ml. Jadi hari itu aku diambil darahnya 400 ml. Alhamdulilah, semoga aja darahku bermanfaat untuk kemanusiaan, amiin…
Waktu sedang donor darah salah satu susternya menanyakan “kalau di Indonesia katanya setelah selesai donor darah diberikan makanan ya?” aku jawab “iya memang PMI Indonesia menyediakan roti dan susu untuk yang selesai donor darah, tapi kalau disini ketentuannya berbeda ya, tidak usah repot-repot menyediakan untukku”, “bagiku bisa mendonorkan darahku aja aku udah senang” lanjutku, mereka-pun tersenyum. Kalau di Jepang hanya di sediakan minuman dan biskuit yang dapat kita ambil di vending machine segara gratis, selain itu juga di sediakan banyak buku-buku dan komik buat mereka yang selesai mendonorkan darahnya, sambil menunggu beberapa menit untuk pemulihan kondisi tubuh.
Biasanya di Indonesia setelah selesai donor darah maka kartu kita akan di cap tanggal dan tempat kita melakukan donor darah selain itu akan diberikan kertas pemberitahuan kapan kita akan mendonor darah berikutnya. Kalau di Jepang sistem kartunya seperti ATM ada pin-nya dan berisi semua data tentang diri kita, tanggal kita melakukan donor darah sudah tercantum, berapa darah kita yang didonorkan dan kapan waktu selanjutnya jika kita ingin mendonorkan darahnya. Sayangnya mungkin aku sudah pulang ke Indonesia untuk tanggal berikutnya karena tercantum 8 desember 2010, tak apalah, nanti donor darah di Indonesia juga bisa.
Buat temen-temen yang belum pernah donor darah, semoga menjadi terbuka hatinya dan tergerak untuk mendonorkan darahnya, kalian udah tahu kan hadistnya, tinggal mengamalkannya. Buat yang udah pernah/ udah sering mendonorkan darahnya semoga jadi tambah bersemangat dan terus rutin mendonorkan darahnya, semoga kelak ini akan menjadi catatan amal yang baik bagi kita, amiiin.
Karena pada dasarnya sel darah merah dalam tubuh kita hanya bertahan selama 120 hari dan kemudian akan dihancurkan yang selanjutnya tubuh akan membentuk sel darah merah yang baru. Kadang-kadang darah kotor yang ada dalam tubuh kita dikeluarkan dalam bentuk jerawat dan bisul, maka daripada keluar dalam bentuk itu lebih baik kita sumbangkan agar lebih bermanfaat bagi kita dan juga bagi orang lain.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Ryoma Sakamoto Sang Revolusioner
Setiap perubahan pasti akan memunculkan pahlawan yang akan selalu dikenang sebagai orang yang berperan dalam perubahan tersebut. Perubahan Jepang menjadi negara kuat adalah saat terjadi “resotari meiji” pada tahun 1868 dimana terjadi perubahan besar-besaran dalam segala aspek kehidupan di Jepang dari pemerintahan Shogun yang diktator kembali ke Kaisar. Dalam sejarah Jepang dikenal seorang samurai yang turut serta dalam melakukan perubahan fundamental itu, yang berasal dari Kochi yaitu Ryoma Sakamoto.
Ryoma adalah seorang samurai kelas bawah yang bersama dengan teman-temanya melakukan perubahan pada pemerintahan Jepang pada masa itu. Pada masa itu terdapat perbedaan kasta -yang dibuat oleh shogun- di masyarakat antara samurai, petani, tukang dan pedagang atau yang dikenal dengan "shi-Nou-kou-sho". Ryoma dilahirkan pada tahun 1835 di kochi atau yang dulu dikenal dengan domain feodal “Tosa”. Dia adalah putra bungsu dari keluarga pedagang yang kaya, ayahnya membeli hak untuk menjadi goshi samurai kelas bawah. Pada saat itu samurai itu dibagi menjadi dua kelas, Joshi dan goshi (Atas dan bawah).
Pada Usia 14 tahun (1849) dia berlatih kendo dan menjadi pemuda yang sangat berbakat dalam bidang tersebut sehingga di kirim ke sekolah samurai di Edo (Sekarang Tokyo). Pada waktu itu terdapat tiga (3) Klan kuat yaitu klan Satsuma dari Prefektur Kagoshima di Kyushu, Klan Chōshū dari Prefektur Yamaguchi di Honshu dan Klan Tosa dari Prefektur Kochi di Shikoku.
Pada Usia 19 tahun (1853) dia mendapatkan peringkat dua disekolahnya dan merupakan salah satu pemuda terkuat di kelasnya. Pada tahun yang sama juga ditandai dengan datangnya “black ship” 4 armada kapal hitam Amerika dengan Kommodor Mathew Perry sebagai pemimpinnya.
Ini merupakan titik awal Jepang dalam sejarah “Restorasi Meiji”, selama lebih kurang 200 tahun Jepang melaksanakan politik sakoku, menutup diri dari pengaruh asing. Ketika itu kommodor Perry datang dan ingin mengadakan kerjasama serta membuka pelabuhan Jepang untuk Internasional. Sebagai seorang samurai Ryoma juga ikut dalam barisan prajurit yang diperintahkan Kaisar untuk menjaga Teluk Edo, saat melihat besarnya kapal Amerika dan canggihnya tekhnologi yang digunakan, belum banyak orang jepang yang mengenal senjata api (pistol) pada waktu itu. Ryoma iri sekaligus ketakutan akan masa depan Jepang yang akan datang, dia juga menginginkan agar Jepang dapat memiliki kapal seperti “black ship” itu.
Pada tahun 1854 Ryoma pulang ke Tosa dan bertemu dengan seorang penulis buku bernama Kawade Shoryo, dia adalah penulis buku biografi “Nakahama Manjiro” seorang nelayan yang terdampar di Hawaii kemudian ditemukan oleh Kapten kapal pemburu ikan paus miliki Amerika lalu dibawa ke Amerika. Nakahama Manjiro merupakan orang Jepang pertama yang belajar di Amerika. Dia juga sempat bekerja di kapal ikan sebelum kembali ke Jepang dan menjadi penerjemah saat kedatangan Kommodor Perry. Cerita ini menginsipirasi Ryoma sehingga dia jadi tahu kebijakan ekonomi, sosial, politik dan keadaan Amerika. Ryoma kembali ke Edo dan menyelesaikan studinya pada tahun 1958.
Pada tahun 1862 Takechi teman Ryoma mendirikan kelompok di domain Tosa yang terdiri dari samurai kelas bawah. Mereka menginginkan perubahan/revolusi di klan Tosa, akan tetapi Ryoma menginginkan perubahan untuk seluruh Jepang, sehingga Ryoma memutuskan untuk tidak bergabung dan memilih bekerja bersama Katsu Kaishu seorang perwira berpangkat tinggi di pemerintahan shogun.
Pada Tahun 1863 Katsu mendirikan Akademi Angkatan Laut di kobe dan Ryoma ikut bergabung di dalamnya. Sekolah ini terdiri dari para ronin muda tanpa adanya perbedaan status social. Mereka sama seperti ryoma meninggalkan klan-nya untuk melakukan perubahan. Pada saat itu terjadi pemberontakan dari Klan Choshu kepada Kaisar dan banyak dari mereka adalah siswa di Akademi Angkatan Laut kobe sehingga Kaisar memutuskan untuk membubarkan Akademi Angkatan Laut ini
Pada tahun 1864 Ryoma dengan sekitar 20 teman-temannya pergi ke Nagasaki dan memulai "Kameyama Shachu" (perusahaan) yang kemudian dikenal sebagai “kaientai" (Naval Auxiliary Force). Kaientai ini disebut sebagai perusahaan pertama di Jepang. Perusahan ini bergerak dalam bidang perdagangan, ekspor-import dan persenjataan. Ryoma sangat cerdas dia mampu bekerjasama dan menjalin hubungan baik dengan Klan choshu dan klan Satsuma. Pada waktu itu klan choshu dilarang membeli senjata karena telah melakukan pemberontakan terhadap Kaisar, padahal mereka sangat membutuhkan senjata. Sedangkan Klan Satsuma membutuhkan bahan makanan yang berasal dari Klan choshu. Maka Ryoma mensiasatinya dengan membeli senjata atas nama klan Satsuma kemudian menukarkannya dengan makanan yang dimiliki klan Choshu. Semua ini tertuang dalam pakta kerjasama yang ditandatangani pada tahun 1986 secara diam-diam.
Ternyata hal ini tercium oleh pemerintahan shogun saat itu, mereka tahu bahwa Ryoma melakukan kerjasama dengan kedua klan tersebut untuk melakukan perubahan dan berusaha menggulingkan kekuasaan shogun, ketika Ryoma sedang menginap di sebuah penginapan di Kyoto. Ryoma diserang oleh para prajurit shogun, walaupun saat itu dia memiliki pistol tetapi karena banyaknya jumlah prajurit yang menyerangnya dia-pun lari menyelamatkan diri. Ryoma beruntung tidak mati dalam penyerangan itu, akan tetapi di mengalami luka yang cukup parah. Klan Satsuma menyelamatkan Ryoma dan merawat luka-lukanya hingga sembuh.
Bulan April tahun 1867 sebuah kapal dagang Ryoma ditenggelamkan oleh Klan Kishu yang merupakan kerabat dari shogun. Ryoma marah dan meminta ganti rugi, dia mulai memperkenalkan Hukum Laut Internasional dan meminta kasus tenggelamnya kapal dagang milik perusahaan-nya diselesaikan dengan Hukum Laut Internasional, dan akhirnya Ryoma mendapatkan ganti rugi yang cukup besar. Pada saat yang sama Ryoma juga menjalin kerjasama dengan penasehat domain Tosa Goto Shojiro. Klan Tosa ingin bergabung dengan Klan Choshu dan Klan Satsuma menjadi bagian dalam perubahan itu.
Akhirnya dengan dukungan dari ketiga klan tersebut maka Ryoma dan kelompoknya berhasil membuat shogun mengundurkan diri tanpa terjadi peperangan dan pertumpahan darah. Ide Ryoma untuk pemerintahan baru tertuang dalam bukunya "Senchu Hassaku" atau Delapan point pemerintahan baru. Ryoma menyarankan agar kekuasaan dikembalikan kepada Kaisar. Agar harga emas dan perak disamakan dengan negara lain, mengikuti harga internasional Pada bulan Nopember 1867 Ryoma di bunuh di Kyoto oleh samurai kelas atas yang tidak menyukai sepak-terjang Ryoma, dia meninggal dalam usia 32 tahun.
Dia meninggal sebelum menyaksikan keberhasilan revolusi yang telah direncanakan. Perubahan terjadi ketika Kaisar Meiji naik tahta pada tahun 1968 saat itu Kaisar menghapus semua sistem yang dahulu di bentuk oleh shogun, Jepang masuk dalam era baru.
Selama masa peralihan dari shogun ke “restorasi meiji” dalam sejarah Jepang, banyak pahlawan yang berguguran. Perbedaan antara Ryoma dan yang lainnya adalah bahwa Ryoma memikirkan kesetaraan persamaan dan kebebasan sebagai seorang pemimpin dia sangat membenci perbedaan kelas, dia tidak pernah bekerja hanya untuk kepentingannya sendiri, dia sangat setia pada Kaisar . Dia adalah salah satu dari beberapa samurai yang memiliki visi dan misi yang jelas tentang masa depan serta memiliki pikiran yang terbuka itulah salah satu alasan mengapa dia begitu populer dikalangan anak muda Jepang.
Sebagai penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan nama Ryoma Sakamoto diabadikan sebagi nama Bandar udara di Kochi. Nama Ryoma saat ini lebih terkenal ketika dia telah meninggal daripada saat dia masih hidup, banyak barang menggunakan gambar Ryoma Sakamoto
Dikutip dari berbagai sumber
Ryoma adalah seorang samurai kelas bawah yang bersama dengan teman-temanya melakukan perubahan pada pemerintahan Jepang pada masa itu. Pada masa itu terdapat perbedaan kasta -yang dibuat oleh shogun- di masyarakat antara samurai, petani, tukang dan pedagang atau yang dikenal dengan "shi-Nou-kou-sho". Ryoma dilahirkan pada tahun 1835 di kochi atau yang dulu dikenal dengan domain feodal “Tosa”. Dia adalah putra bungsu dari keluarga pedagang yang kaya, ayahnya membeli hak untuk menjadi goshi samurai kelas bawah. Pada saat itu samurai itu dibagi menjadi dua kelas, Joshi dan goshi (Atas dan bawah).
Pada Usia 14 tahun (1849) dia berlatih kendo dan menjadi pemuda yang sangat berbakat dalam bidang tersebut sehingga di kirim ke sekolah samurai di Edo (Sekarang Tokyo). Pada waktu itu terdapat tiga (3) Klan kuat yaitu klan Satsuma dari Prefektur Kagoshima di Kyushu, Klan Chōshū dari Prefektur Yamaguchi di Honshu dan Klan Tosa dari Prefektur Kochi di Shikoku.
Pada Usia 19 tahun (1853) dia mendapatkan peringkat dua disekolahnya dan merupakan salah satu pemuda terkuat di kelasnya. Pada tahun yang sama juga ditandai dengan datangnya “black ship” 4 armada kapal hitam Amerika dengan Kommodor Mathew Perry sebagai pemimpinnya.
Ini merupakan titik awal Jepang dalam sejarah “Restorasi Meiji”, selama lebih kurang 200 tahun Jepang melaksanakan politik sakoku, menutup diri dari pengaruh asing. Ketika itu kommodor Perry datang dan ingin mengadakan kerjasama serta membuka pelabuhan Jepang untuk Internasional. Sebagai seorang samurai Ryoma juga ikut dalam barisan prajurit yang diperintahkan Kaisar untuk menjaga Teluk Edo, saat melihat besarnya kapal Amerika dan canggihnya tekhnologi yang digunakan, belum banyak orang jepang yang mengenal senjata api (pistol) pada waktu itu. Ryoma iri sekaligus ketakutan akan masa depan Jepang yang akan datang, dia juga menginginkan agar Jepang dapat memiliki kapal seperti “black ship” itu.
Pada tahun 1854 Ryoma pulang ke Tosa dan bertemu dengan seorang penulis buku bernama Kawade Shoryo, dia adalah penulis buku biografi “Nakahama Manjiro” seorang nelayan yang terdampar di Hawaii kemudian ditemukan oleh Kapten kapal pemburu ikan paus miliki Amerika lalu dibawa ke Amerika. Nakahama Manjiro merupakan orang Jepang pertama yang belajar di Amerika. Dia juga sempat bekerja di kapal ikan sebelum kembali ke Jepang dan menjadi penerjemah saat kedatangan Kommodor Perry. Cerita ini menginsipirasi Ryoma sehingga dia jadi tahu kebijakan ekonomi, sosial, politik dan keadaan Amerika. Ryoma kembali ke Edo dan menyelesaikan studinya pada tahun 1958.
Pada tahun 1862 Takechi teman Ryoma mendirikan kelompok di domain Tosa yang terdiri dari samurai kelas bawah. Mereka menginginkan perubahan/revolusi di klan Tosa, akan tetapi Ryoma menginginkan perubahan untuk seluruh Jepang, sehingga Ryoma memutuskan untuk tidak bergabung dan memilih bekerja bersama Katsu Kaishu seorang perwira berpangkat tinggi di pemerintahan shogun.
Pada Tahun 1863 Katsu mendirikan Akademi Angkatan Laut di kobe dan Ryoma ikut bergabung di dalamnya. Sekolah ini terdiri dari para ronin muda tanpa adanya perbedaan status social. Mereka sama seperti ryoma meninggalkan klan-nya untuk melakukan perubahan. Pada saat itu terjadi pemberontakan dari Klan Choshu kepada Kaisar dan banyak dari mereka adalah siswa di Akademi Angkatan Laut kobe sehingga Kaisar memutuskan untuk membubarkan Akademi Angkatan Laut ini
Pada tahun 1864 Ryoma dengan sekitar 20 teman-temannya pergi ke Nagasaki dan memulai "Kameyama Shachu" (perusahaan) yang kemudian dikenal sebagai “kaientai" (Naval Auxiliary Force). Kaientai ini disebut sebagai perusahaan pertama di Jepang. Perusahan ini bergerak dalam bidang perdagangan, ekspor-import dan persenjataan. Ryoma sangat cerdas dia mampu bekerjasama dan menjalin hubungan baik dengan Klan choshu dan klan Satsuma. Pada waktu itu klan choshu dilarang membeli senjata karena telah melakukan pemberontakan terhadap Kaisar, padahal mereka sangat membutuhkan senjata. Sedangkan Klan Satsuma membutuhkan bahan makanan yang berasal dari Klan choshu. Maka Ryoma mensiasatinya dengan membeli senjata atas nama klan Satsuma kemudian menukarkannya dengan makanan yang dimiliki klan Choshu. Semua ini tertuang dalam pakta kerjasama yang ditandatangani pada tahun 1986 secara diam-diam.
Ternyata hal ini tercium oleh pemerintahan shogun saat itu, mereka tahu bahwa Ryoma melakukan kerjasama dengan kedua klan tersebut untuk melakukan perubahan dan berusaha menggulingkan kekuasaan shogun, ketika Ryoma sedang menginap di sebuah penginapan di Kyoto. Ryoma diserang oleh para prajurit shogun, walaupun saat itu dia memiliki pistol tetapi karena banyaknya jumlah prajurit yang menyerangnya dia-pun lari menyelamatkan diri. Ryoma beruntung tidak mati dalam penyerangan itu, akan tetapi di mengalami luka yang cukup parah. Klan Satsuma menyelamatkan Ryoma dan merawat luka-lukanya hingga sembuh.
Bulan April tahun 1867 sebuah kapal dagang Ryoma ditenggelamkan oleh Klan Kishu yang merupakan kerabat dari shogun. Ryoma marah dan meminta ganti rugi, dia mulai memperkenalkan Hukum Laut Internasional dan meminta kasus tenggelamnya kapal dagang milik perusahaan-nya diselesaikan dengan Hukum Laut Internasional, dan akhirnya Ryoma mendapatkan ganti rugi yang cukup besar. Pada saat yang sama Ryoma juga menjalin kerjasama dengan penasehat domain Tosa Goto Shojiro. Klan Tosa ingin bergabung dengan Klan Choshu dan Klan Satsuma menjadi bagian dalam perubahan itu.
Akhirnya dengan dukungan dari ketiga klan tersebut maka Ryoma dan kelompoknya berhasil membuat shogun mengundurkan diri tanpa terjadi peperangan dan pertumpahan darah. Ide Ryoma untuk pemerintahan baru tertuang dalam bukunya "Senchu Hassaku" atau Delapan point pemerintahan baru. Ryoma menyarankan agar kekuasaan dikembalikan kepada Kaisar. Agar harga emas dan perak disamakan dengan negara lain, mengikuti harga internasional Pada bulan Nopember 1867 Ryoma di bunuh di Kyoto oleh samurai kelas atas yang tidak menyukai sepak-terjang Ryoma, dia meninggal dalam usia 32 tahun.
Dia meninggal sebelum menyaksikan keberhasilan revolusi yang telah direncanakan. Perubahan terjadi ketika Kaisar Meiji naik tahta pada tahun 1968 saat itu Kaisar menghapus semua sistem yang dahulu di bentuk oleh shogun, Jepang masuk dalam era baru.
Selama masa peralihan dari shogun ke “restorasi meiji” dalam sejarah Jepang, banyak pahlawan yang berguguran. Perbedaan antara Ryoma dan yang lainnya adalah bahwa Ryoma memikirkan kesetaraan persamaan dan kebebasan sebagai seorang pemimpin dia sangat membenci perbedaan kelas, dia tidak pernah bekerja hanya untuk kepentingannya sendiri, dia sangat setia pada Kaisar . Dia adalah salah satu dari beberapa samurai yang memiliki visi dan misi yang jelas tentang masa depan serta memiliki pikiran yang terbuka itulah salah satu alasan mengapa dia begitu populer dikalangan anak muda Jepang.
Sebagai penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan nama Ryoma Sakamoto diabadikan sebagi nama Bandar udara di Kochi. Nama Ryoma saat ini lebih terkenal ketika dia telah meninggal daripada saat dia masih hidup, banyak barang menggunakan gambar Ryoma Sakamoto
Dikutip dari berbagai sumber
Pengalaman Lebaran Seorang Hajimete
Biasanya malam takbiran selalu rame dan sangat meriah, dimana-mana kita mendengarkan kumandang takbir, baik dari masjid-masjid, musola-musola dan takbir keliling. Kalau di Jakarta akan banyak kita lihat pemuda-pemuda berkonvoi naik kendaraan di jalan-jalan, kemudian beberapa orang menyalakan kembang api. Kalau di kampungku desa Gumingsir Banjarnegara, ada pawai obor keliling kampung, setelah itu biasanya akan dinyalakan petasan yang banyak sekali, dan besok pagi saat sholat Ied di jalanan akan penuh dengan sampah kertas dari petasan yang meledak. Kalau di Jepang tentu saja tidak ada takbir keliling, adanya takbiran sendiri di kamar, sambil dengerin gema takbir ust.Jefri Al Bukhori yang aku download dari youtube, tidak ada suara petasan, tidak ada kembang api dan juga tidak ada suara beduk. Rasanya pengen sms temen2 untuk mengucapkan selamat lebaran tapi di sini ga punya hp, pengen kirim-kirim kartu lebaran lewat pesbuk, tapi kok kayaknya udah banyak yang ngirim kayak gitu. Ya udah deh biar kelihatan beda sedikit aku rekam aja video dari webcamku dengan latar gema takbir ust. Jefri al Bukhori, kemudian upload di pesbuk. Semoga dapat sedikit mengobati rasa rinduku pada kampung halaman.
Sholat Idul Fitri di Jepang dilaksanakan di pelataran/halaman International House Kochi University, di daerah Manobe. Tempat sholanya bukan di dalam ruangan, karena memang sunahnya di tempat terbuka, selain itu juga di Kochi belum ada masjid. Mungkin karena lokasi para muslim-muslimat di kochi yang berjauhan maka sholat dimulai pukul 09.00, sudah agak siang memang tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Jamaahnya tidak banyak mungkin seluruhnya berjumlah hanya sekitar 30 orang bapak-bapak, ibu-ibu dan juga anak-anak, 2 shaf bapak-bapak, 1 shaf ibu-ibu dan anak-anak.. Memang masyarakat muslim di Kochi tidaklah banyak seperti di daerah lain, di sini komunitas muslimnya di dominasi oleh orang Indonesia dan Bangladesh, mereka rata-rata mahasiswa ada juga yang pekerja, tapi tidak ada orang arab disini, baik Arab Saudi, Mesir, Yaman dan sekitarnya.
Imam kita adalah pak haji Erwin orang Indonesia, beliau biasa dipangil pak ustadz, beliau berceramah menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris walaupun panas, beliau tetap semangat dalam menyampaikan khutbah Idul Fitri, semoga Allah memberkahi beliau dan juga kita semua. Setelah khutbah kita bersalam-salaman dan saling memaafkan seperti tradisi kita di Indonesia, tapi tidak ada acara sungkeman disini, juga tidak ada silaturahmi ke rumah-rumah tetangga seperti yang bisa kita lakukan di Indonesia.
International House adalah apartemen yang disediakan oleh pihak universitas, khusus untuk mahasiswa asing yang sedang melaksanakan kuliah di kochi University. Terdapat gedung untuk mahasiswa yang masih single dan juga untuk yang sudah berkeluarga, walaupun begitu, ini tidaklah gratis tetap harus bayar sekitar 20.000 yen per bulan untuk yang sendirian dan 40.000 yen per bulan untuk yang bersama keluarga. Lanjutan acara setelah sholat Ied adalah makan bersama, tempatnya di rumah pak Iwan dan bu Rini.
Mantap, walaupun sedang berada di “Negeri Sakura” tetapi masakannya asli dari Indonesia, masakan dengan rasa Indonesia dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Banyak sekali orang-orang baru yang aku temui, mungkin rata-rata adalah ibu-ibu yang menikah dengan orang Jepang, bahkan anaknya pun sangat mirip orang jepang. Mereka adalah pekerja yang sudah menetap cukup lama di sini. Hari ini sebenarnya aku tidak libur, cuma dapat sedikit dispensasi masuk kuliah agak terlambat, setelah bersilatuharmi dan menikmati makanan, aku dan temanku Mourad ijin pamit mau kuliah kebetulan lokasi tempat kuliahku hari ini dekat International house jadi tinggal jalan sebentar.
Malam hari sebenarnya aku dan teman-teman JICA berencana akan jalan-jalan ke Obiyamachi untuk merayakan hari Idul Fitri. Tapi saat lagi online di YM pak de Parno ngajakin aku ke rumah pak Ustadz, pak haji Erwin, lokasinya lumayan jauh berada di Tosa Yamada. Wah gimana ya sebenarnya udah ada acara tapi.., ya udahlah dengan penuh pertimbangan sepertinya lebih baik ikut ke Tosa Yamada karena belum tentu aku punya kesempatan berkunjung ke rumah pak Ustadz lain waktu, sedangkan kalau ke Obiyamachi bisa kapan aja.
Rumah tempat pak Ustadz tinggal berbeda dengan yang lainnya, klo yang lain tinggal di Apato, maka pak Ustadz dan keluarganya tinggal di rumah model Jepang, ada halaman yang cukup luas di depan rumah, ada halaman di belakang rumah juga ada garasi dan halaman di samping rumah, wah luas banget rumahnya. Menurut pak Ustadz rumah ini dahulu di huni keluarga Jepang yang kegiatannya sehari-hari bertani, halaman belakang untuk persawahan, halaman samping untuk menanam sayur-sayuran dan halaman depan untuk menanam buah-buahan. Konstruksi bangunan dan pengairannya sangat teratur, pengairan untuk sawah suplai airnya sangat terjamin sepanjang musim tanam selain itu airnya juga bersih, antara air pembuangan dari rumah dengan air untuk mengairi sawah dibedakan selokannya. Orang tidak boleh membuang sampah di selokan, bahkan meludah sembarangan-pun dilarang. Selokan disini bersih walaupun itu air buangan dari rumah, tidak ada sisa nasi, sayuran dan sampah rumah tangga lainya. Tapi karena sekarang daerah itu sudah penuh dengan pemukiman maka halaman tadinya buat persawahan tidak lagi digunakan, hanya halaman samping yang masih beliau tanam dengan macam-macam sayuran seperti kacang panjang, sereh, bawang dsb. Menurut beliau wilayah disekitar tempat beliau tinggal merupakan lingkungan keluarga dan masih satu marga, jadi tetangganya sangat ramah dan baik. Beliau beruntung dapat menyewa rumah di wilayah ini, selain jauh dari kebisingan lokasinya juga sangat dekat dengan kampus tempat Istri beliau kuliah.
Mungkin kalian akan bertanya-tanya lalu siapa itu Hajimete? Hajimete bukanlah nama orang dan tidak ada kaitanya denga gelar haji yang biasa disematkan pada orang yang sudah menunaikan rukun islam yang kelima. Hajimete dalam bahasa Jepang berarti “baru pertama kali” jadi ini adalah pengalaman orang yang baru pertama kali lebaran di Jepang. Semoga bermanfaat
Sholat Idul Fitri di Jepang dilaksanakan di pelataran/halaman International House Kochi University, di daerah Manobe. Tempat sholanya bukan di dalam ruangan, karena memang sunahnya di tempat terbuka, selain itu juga di Kochi belum ada masjid. Mungkin karena lokasi para muslim-muslimat di kochi yang berjauhan maka sholat dimulai pukul 09.00, sudah agak siang memang tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Jamaahnya tidak banyak mungkin seluruhnya berjumlah hanya sekitar 30 orang bapak-bapak, ibu-ibu dan juga anak-anak, 2 shaf bapak-bapak, 1 shaf ibu-ibu dan anak-anak.. Memang masyarakat muslim di Kochi tidaklah banyak seperti di daerah lain, di sini komunitas muslimnya di dominasi oleh orang Indonesia dan Bangladesh, mereka rata-rata mahasiswa ada juga yang pekerja, tapi tidak ada orang arab disini, baik Arab Saudi, Mesir, Yaman dan sekitarnya.
Imam kita adalah pak haji Erwin orang Indonesia, beliau biasa dipangil pak ustadz, beliau berceramah menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris walaupun panas, beliau tetap semangat dalam menyampaikan khutbah Idul Fitri, semoga Allah memberkahi beliau dan juga kita semua. Setelah khutbah kita bersalam-salaman dan saling memaafkan seperti tradisi kita di Indonesia, tapi tidak ada acara sungkeman disini, juga tidak ada silaturahmi ke rumah-rumah tetangga seperti yang bisa kita lakukan di Indonesia.
International House adalah apartemen yang disediakan oleh pihak universitas, khusus untuk mahasiswa asing yang sedang melaksanakan kuliah di kochi University. Terdapat gedung untuk mahasiswa yang masih single dan juga untuk yang sudah berkeluarga, walaupun begitu, ini tidaklah gratis tetap harus bayar sekitar 20.000 yen per bulan untuk yang sendirian dan 40.000 yen per bulan untuk yang bersama keluarga. Lanjutan acara setelah sholat Ied adalah makan bersama, tempatnya di rumah pak Iwan dan bu Rini.
Mantap, walaupun sedang berada di “Negeri Sakura” tetapi masakannya asli dari Indonesia, masakan dengan rasa Indonesia dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Banyak sekali orang-orang baru yang aku temui, mungkin rata-rata adalah ibu-ibu yang menikah dengan orang Jepang, bahkan anaknya pun sangat mirip orang jepang. Mereka adalah pekerja yang sudah menetap cukup lama di sini. Hari ini sebenarnya aku tidak libur, cuma dapat sedikit dispensasi masuk kuliah agak terlambat, setelah bersilatuharmi dan menikmati makanan, aku dan temanku Mourad ijin pamit mau kuliah kebetulan lokasi tempat kuliahku hari ini dekat International house jadi tinggal jalan sebentar.
Malam hari sebenarnya aku dan teman-teman JICA berencana akan jalan-jalan ke Obiyamachi untuk merayakan hari Idul Fitri. Tapi saat lagi online di YM pak de Parno ngajakin aku ke rumah pak Ustadz, pak haji Erwin, lokasinya lumayan jauh berada di Tosa Yamada. Wah gimana ya sebenarnya udah ada acara tapi.., ya udahlah dengan penuh pertimbangan sepertinya lebih baik ikut ke Tosa Yamada karena belum tentu aku punya kesempatan berkunjung ke rumah pak Ustadz lain waktu, sedangkan kalau ke Obiyamachi bisa kapan aja.
Rumah tempat pak Ustadz tinggal berbeda dengan yang lainnya, klo yang lain tinggal di Apato, maka pak Ustadz dan keluarganya tinggal di rumah model Jepang, ada halaman yang cukup luas di depan rumah, ada halaman di belakang rumah juga ada garasi dan halaman di samping rumah, wah luas banget rumahnya. Menurut pak Ustadz rumah ini dahulu di huni keluarga Jepang yang kegiatannya sehari-hari bertani, halaman belakang untuk persawahan, halaman samping untuk menanam sayur-sayuran dan halaman depan untuk menanam buah-buahan. Konstruksi bangunan dan pengairannya sangat teratur, pengairan untuk sawah suplai airnya sangat terjamin sepanjang musim tanam selain itu airnya juga bersih, antara air pembuangan dari rumah dengan air untuk mengairi sawah dibedakan selokannya. Orang tidak boleh membuang sampah di selokan, bahkan meludah sembarangan-pun dilarang. Selokan disini bersih walaupun itu air buangan dari rumah, tidak ada sisa nasi, sayuran dan sampah rumah tangga lainya. Tapi karena sekarang daerah itu sudah penuh dengan pemukiman maka halaman tadinya buat persawahan tidak lagi digunakan, hanya halaman samping yang masih beliau tanam dengan macam-macam sayuran seperti kacang panjang, sereh, bawang dsb. Menurut beliau wilayah disekitar tempat beliau tinggal merupakan lingkungan keluarga dan masih satu marga, jadi tetangganya sangat ramah dan baik. Beliau beruntung dapat menyewa rumah di wilayah ini, selain jauh dari kebisingan lokasinya juga sangat dekat dengan kampus tempat Istri beliau kuliah.
Mungkin kalian akan bertanya-tanya lalu siapa itu Hajimete? Hajimete bukanlah nama orang dan tidak ada kaitanya denga gelar haji yang biasa disematkan pada orang yang sudah menunaikan rukun islam yang kelima. Hajimete dalam bahasa Jepang berarti “baru pertama kali” jadi ini adalah pengalaman orang yang baru pertama kali lebaran di Jepang. Semoga bermanfaat
I'tikaf di Jepang
I’tikaf adalah kegiatan berdiam diri di masjid untuk melakukan amal ibadah, yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Rasullulah SAW sangat menganjurkan kita untuk melakukan I’tikaf pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Aku dan istri sering melakukan itikaf ketika di Indonesia walaupun tidak 10 hari penuh, waktu itu banyak masjid yang menyediakan dan menyelenggarakan kegiatan I’tikaf, akan tetapi di Jepang, merupakan hal yang seumur-umur baru kali ini aku alami, sungguh pengalaman yang tidak bakal aku lupakan, sangat mengesankan.
Lokasi masjid tempat aku i’tikaf bukanlah masjid yang ada di kota Kochi, karena di Kochi tidak ada masjid disini, masjid itu ada di kota Tokushima. Jaraknya sekitar 157 Km dari Kochi, menempuh perjalan sekitar 2,5 jam menggunakan mobil. Masjid di Tokushima bukanlah masjid seperti yang biasa kita lihat di Indonesia, dimana terdapat menara yang menjulang tinggi serta ada kubah yang merupakan ciri khas masjid. Tapi disini masjid hanya berupa bangunan segi empat yang berukuran panjang sekitar 20 meter lebar 10 meter. Masjid ini terdiri dari 2 lantai, lantai bawah untuk sholat ikhwan lantai atas untuk sholat akhwat.
Masjid ini adalah bangunan yang baru dibeli, mungkin sekitar setahun yang lalu dibeli oleh masyarakat muslim di daerah Tokushima menggunakan dana hasil patungan diantara mereka. Tanah di Jepang sangat mahal, apalagi beserta bangunan yang lokasinya berada di tengah kota tidak terbanyang harganya, menurut informasi harga masjid ini ketika di beli sekitar 20 juta Yen atau kalau di Indonesia setara dengan 2 Milyar Rupiah, Wauw suatu harga yang fantastis dan pasti memerlukan perjuangan yang sangat berat dari para muslim di Tokushima. Dahulunya masjid tidak sebagus saat ini belum ada wallpaper di dinding dan belum memiliki karpet, sekarang sudah mulai ada perkembangan dan menampakkan seperti masjid. Bangunan dicat menyerupai kubah, wallpaper dipasang, karpet didatangkan langsung dari Syria, semuanya dengan perjuangan dan gotong-royong dari masyarakat Tokushima.
Imam masjid ini adalah seorang professor berkebangsaan Mesir yang pekerjaannya adalah dosen dan mengajar di Tokushima University. Orangnya low-profile dan sangat ramah, beliau berperawakan tinggi dan menggunakan kaca-mata beliau sangat welcome terhadap muslim yang datang berkunjung ke masjid. Orang Jepang yang memeluk agama Islam di Jepang maupun di Tokushima ini belumlah begitu banyak akan tetapi para muslim disini menyediakan banyak buku-buku islam yang menggunakan bahasa Jepang, Al-qur’an dengan terjemahan bahasa Jepang, buku-buku tentang islam, majalah, brosur dsb. Yang aku tahu satu dari orang Jepang di Tokushima yang memeluk agama Islam adalah Muto-san, beliau menikah dengan ibu dewi warga Indonesia asal Jogja, mereka telah dikaruniai 3 orang anak. Subhanallah semoga semakin banyak saja orang Jepang yang memeluk Islam, karena sebenarnya mereka telah melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari seperti kebersihan, disiplin / tepat waktu, menghormati orang, ramah, rapi, teratur, hanya saja mereka belum meyakini secara keimanan. Kita sering mendengar para dai/mubaligh mengatakan bahwa ajaran islam justru terlihat di negara-negara yang bukan mayoritas Islamseperti di Jepang dan negara-negara Eropa. Sedangkan kita di indonesia memang mayoritas beragama islam tetapi jarang sekali kita melihat orang menerapkan ajaran islam, masih banyak korupsi, tipu-menipu, tidak menjaga kebersihan, tidak tepat waktu, kejahatan/kriminalitas dsb.
Sebenarnya aku datang ke Tokushima ini diajak oleh Bapak Yudhi dan keluarga, kita berangkat naik mobil pak Yudhi bersama anak dan istrinya, Pak Iwan dan Keluarga juga berangkat bersama kita menggunakan mobil mereka, sedangkan Pak Erwin dan keluarganya berangkat sendiri, tidak bersamaan dengan kita, tetapi kita janjian akan ketemu di Masjid Tokushima. Waktu itu aku pikir mereka semua akan pulang kembali ke kochi pada hari yang sama, ternyata pak Erwin dan keluarganya akan pulang esok hari dan berniat I’tikaf di masjid. Pak Erwin menawariku untuk pulang bersama beliau, kalau aku memang mau I’tikaf malam ini, “ya” tentu saja dengan senang hati aku mengiyakan. Kapan lagi punya kesempatan itikaf di masjid di 10 hari terakhir Ramadhan kalau bukan saat ini begitu pikirku. Kebetulan sekarang kan hari sabtu, besok minggu tanggal 5 sepetember libur ga ada kegiatan.
Hebat, di Jepang ini ternyata teman-teman dari Jama’ah Tabliq juga ada disini, luar biasa. Mereka berjumlah 9 orang, berasal dari Indonesia 5 orang dan dari Malaysia 4 orang. Subhanallah ternyata usaha dakwah sudah tersebar dimana-mana. Pemuda dari Indonesia adalah pekerja yang memang sengaja keluar dari pekerjaannya untuk dapat berdakwah 40 hari selama bulan Ramadhan. Pemuda dari Malaysia adalah mahasiswa di Universitas di Jepang. Jama’ah ini baru tiba juga di Tokushima, mereka baru datang dari Masjid Hiroshima. Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh dari markas jama'ah tabliq, masjid Jami Nagoya, di Pulau Honsu hingga ke Tokushima di Pulau Shikoku. Mereka mengatakan bahwa sekarang di Jepang ini masjid sudah mulai banyak, kalau 5 tahun yang lalu mungkin butuh waktu 4-5 jam dari satu masjid ke masjid lain sekarang hanya sekitar 1-2 jam perjalanan. Subhanallah, mereka mengingatkan aku ketika masih kuliah dulu dimana aku juga ikut bergabung dan menjadi bagian dari mereka. Sekarang aku terlalu sibuk dengan usaha untuk mendapatkan duniaku sehingga hampir-hampir aku melupakan usaha untuk mendapatkan akhiratku. Allahu akbar semoga engkau membimbingku ke jalan yang benar ya Allah.
Pada saat buka puasa banyak sekali masyarakat muslim yang berkumpul disini ada sekitar 50 orang dengan akhwatnya, mereka berasal dari berbagai negara mungkin timur-tengah yang paling banyak karena mereka menggunakan bahasa arab, ada juga teman dari Malaysia, China, India dan Indonesia tentu saja. Kita disuguhi makanan khas timur-tengah yang penuh cita-rasa, seperti masakan padang, bumbunya sangat “nendang”. Lauknya juga besar-besar, daging ayamnya sebesar kepalan tangan, wah ini mah porsi orang timur-tengah. Tapi karena jarang nemuin makan seperti itu ya udah di habisin aja, mantabs.
Sholat magrib berjama’ah dilanjutkan dengann tadarus bersama sembari menunggu waktu sholat isya. Akan tetapi pak Erwin mengatakan bahwa ada tamu dari PKPU yang datang dari Osaka mereka berdua mau mengumpulkan zakat fitrah dari teman-teman yang ada di Tokushima dan Kochi. Beliau berdua adalah pak Edy dari PKPU Jakarta yang memang sedang bertugas di Jepang dan pak Yudi mahasiswa di Hiroshima University. “Mereka baru tiba di Tokushima malam ini dari Hiroshima nanti kita menjemputnya di Tokushima Stasiun” begitu kata pak Erwin. Jadi malam ini aku tidak ikut sholat isya dan tarawih berjamaah di masjid karena kita semua warga Indonesia berkumpul di rumahnya pak Sapta untuk menyambut tamu dari PKPU. Pak Edy menjelaskan mengenai zakat fitrah, zakat mal, zakat profesi, infaq dan juga shodaqoh. Beliau mengatakan bahwa PKPU akan mengadakan kerjasama dengan mahasiswa muslim di Jepang untuk mengumpulkan Zakat dan Infaq untuk disalurkan di Indonesia melalui kedubes RI ataupun Konjen RI. Selama ini memang temen-temen di Jepang ini kesusahan untuk menyalurkan zakatnya, karena tidak ada lembaga yang mengumpulkannya selain itu kalaupun sudah terkumpul di masjid mereka kesulitan menyalurkannya karena masyarakat di Jepang sudah hidup makmur, tidak ada yang mau menerima zakat ataupun shodaqoh. Oleh karena itu PKPU mencoba untuk memberikan jalan keluar dengan menyalurkan zakat mereka kepada masyarakat di Indonesia yang masih membutuhkan
Bersama pak Erwin
Setelah mendengarkan cerita dan pengalaman temen-temen tentang kondisi dan keadaan di Tokushima dan Kochi, pak Edy dan pak Yudhi ikut beri’tikaf di masjid Tokushima bersama kami. Malam itu sebelum makan sahur kita mengerjakan sholat Tahajjud dan setelah sahur dilanjutkan sholat Shubuh dan diakhiri dengan tadarus dan doa, kemudian beristirahat untuk selanjutnya mengantarkan pak Edy dan pak Yudhi ke Stasiun Tokushima, baru kembali ke Kochi.
Subhanallah, terimakasih ya Allah, telah memberikan aku kesempatan untuk beritikaf dan mengenal banyak saudara muslim, semoga engkau menguatkan persaudaran ini dan mempertemukan kami semua di surgaMu, Amiin ya robbal alamin
Lokasi masjid tempat aku i’tikaf bukanlah masjid yang ada di kota Kochi, karena di Kochi tidak ada masjid disini, masjid itu ada di kota Tokushima. Jaraknya sekitar 157 Km dari Kochi, menempuh perjalan sekitar 2,5 jam menggunakan mobil. Masjid di Tokushima bukanlah masjid seperti yang biasa kita lihat di Indonesia, dimana terdapat menara yang menjulang tinggi serta ada kubah yang merupakan ciri khas masjid. Tapi disini masjid hanya berupa bangunan segi empat yang berukuran panjang sekitar 20 meter lebar 10 meter. Masjid ini terdiri dari 2 lantai, lantai bawah untuk sholat ikhwan lantai atas untuk sholat akhwat.
Masjid ini adalah bangunan yang baru dibeli, mungkin sekitar setahun yang lalu dibeli oleh masyarakat muslim di daerah Tokushima menggunakan dana hasil patungan diantara mereka. Tanah di Jepang sangat mahal, apalagi beserta bangunan yang lokasinya berada di tengah kota tidak terbanyang harganya, menurut informasi harga masjid ini ketika di beli sekitar 20 juta Yen atau kalau di Indonesia setara dengan 2 Milyar Rupiah, Wauw suatu harga yang fantastis dan pasti memerlukan perjuangan yang sangat berat dari para muslim di Tokushima. Dahulunya masjid tidak sebagus saat ini belum ada wallpaper di dinding dan belum memiliki karpet, sekarang sudah mulai ada perkembangan dan menampakkan seperti masjid. Bangunan dicat menyerupai kubah, wallpaper dipasang, karpet didatangkan langsung dari Syria, semuanya dengan perjuangan dan gotong-royong dari masyarakat Tokushima.
Imam masjid ini adalah seorang professor berkebangsaan Mesir yang pekerjaannya adalah dosen dan mengajar di Tokushima University. Orangnya low-profile dan sangat ramah, beliau berperawakan tinggi dan menggunakan kaca-mata beliau sangat welcome terhadap muslim yang datang berkunjung ke masjid. Orang Jepang yang memeluk agama Islam di Jepang maupun di Tokushima ini belumlah begitu banyak akan tetapi para muslim disini menyediakan banyak buku-buku islam yang menggunakan bahasa Jepang, Al-qur’an dengan terjemahan bahasa Jepang, buku-buku tentang islam, majalah, brosur dsb. Yang aku tahu satu dari orang Jepang di Tokushima yang memeluk agama Islam adalah Muto-san, beliau menikah dengan ibu dewi warga Indonesia asal Jogja, mereka telah dikaruniai 3 orang anak. Subhanallah semoga semakin banyak saja orang Jepang yang memeluk Islam, karena sebenarnya mereka telah melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari seperti kebersihan, disiplin / tepat waktu, menghormati orang, ramah, rapi, teratur, hanya saja mereka belum meyakini secara keimanan. Kita sering mendengar para dai/mubaligh mengatakan bahwa ajaran islam justru terlihat di negara-negara yang bukan mayoritas Islamseperti di Jepang dan negara-negara Eropa. Sedangkan kita di indonesia memang mayoritas beragama islam tetapi jarang sekali kita melihat orang menerapkan ajaran islam, masih banyak korupsi, tipu-menipu, tidak menjaga kebersihan, tidak tepat waktu, kejahatan/kriminalitas dsb.
Sebenarnya aku datang ke Tokushima ini diajak oleh Bapak Yudhi dan keluarga, kita berangkat naik mobil pak Yudhi bersama anak dan istrinya, Pak Iwan dan Keluarga juga berangkat bersama kita menggunakan mobil mereka, sedangkan Pak Erwin dan keluarganya berangkat sendiri, tidak bersamaan dengan kita, tetapi kita janjian akan ketemu di Masjid Tokushima. Waktu itu aku pikir mereka semua akan pulang kembali ke kochi pada hari yang sama, ternyata pak Erwin dan keluarganya akan pulang esok hari dan berniat I’tikaf di masjid. Pak Erwin menawariku untuk pulang bersama beliau, kalau aku memang mau I’tikaf malam ini, “ya” tentu saja dengan senang hati aku mengiyakan. Kapan lagi punya kesempatan itikaf di masjid di 10 hari terakhir Ramadhan kalau bukan saat ini begitu pikirku. Kebetulan sekarang kan hari sabtu, besok minggu tanggal 5 sepetember libur ga ada kegiatan.
Hebat, di Jepang ini ternyata teman-teman dari Jama’ah Tabliq juga ada disini, luar biasa. Mereka berjumlah 9 orang, berasal dari Indonesia 5 orang dan dari Malaysia 4 orang. Subhanallah ternyata usaha dakwah sudah tersebar dimana-mana. Pemuda dari Indonesia adalah pekerja yang memang sengaja keluar dari pekerjaannya untuk dapat berdakwah 40 hari selama bulan Ramadhan. Pemuda dari Malaysia adalah mahasiswa di Universitas di Jepang. Jama’ah ini baru tiba juga di Tokushima, mereka baru datang dari Masjid Hiroshima. Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh dari markas jama'ah tabliq, masjid Jami Nagoya, di Pulau Honsu hingga ke Tokushima di Pulau Shikoku. Mereka mengatakan bahwa sekarang di Jepang ini masjid sudah mulai banyak, kalau 5 tahun yang lalu mungkin butuh waktu 4-5 jam dari satu masjid ke masjid lain sekarang hanya sekitar 1-2 jam perjalanan. Subhanallah, mereka mengingatkan aku ketika masih kuliah dulu dimana aku juga ikut bergabung dan menjadi bagian dari mereka. Sekarang aku terlalu sibuk dengan usaha untuk mendapatkan duniaku sehingga hampir-hampir aku melupakan usaha untuk mendapatkan akhiratku. Allahu akbar semoga engkau membimbingku ke jalan yang benar ya Allah.
Pada saat buka puasa banyak sekali masyarakat muslim yang berkumpul disini ada sekitar 50 orang dengan akhwatnya, mereka berasal dari berbagai negara mungkin timur-tengah yang paling banyak karena mereka menggunakan bahasa arab, ada juga teman dari Malaysia, China, India dan Indonesia tentu saja. Kita disuguhi makanan khas timur-tengah yang penuh cita-rasa, seperti masakan padang, bumbunya sangat “nendang”. Lauknya juga besar-besar, daging ayamnya sebesar kepalan tangan, wah ini mah porsi orang timur-tengah. Tapi karena jarang nemuin makan seperti itu ya udah di habisin aja, mantabs.
Sholat magrib berjama’ah dilanjutkan dengann tadarus bersama sembari menunggu waktu sholat isya. Akan tetapi pak Erwin mengatakan bahwa ada tamu dari PKPU yang datang dari Osaka mereka berdua mau mengumpulkan zakat fitrah dari teman-teman yang ada di Tokushima dan Kochi. Beliau berdua adalah pak Edy dari PKPU Jakarta yang memang sedang bertugas di Jepang dan pak Yudi mahasiswa di Hiroshima University. “Mereka baru tiba di Tokushima malam ini dari Hiroshima nanti kita menjemputnya di Tokushima Stasiun” begitu kata pak Erwin. Jadi malam ini aku tidak ikut sholat isya dan tarawih berjamaah di masjid karena kita semua warga Indonesia berkumpul di rumahnya pak Sapta untuk menyambut tamu dari PKPU. Pak Edy menjelaskan mengenai zakat fitrah, zakat mal, zakat profesi, infaq dan juga shodaqoh. Beliau mengatakan bahwa PKPU akan mengadakan kerjasama dengan mahasiswa muslim di Jepang untuk mengumpulkan Zakat dan Infaq untuk disalurkan di Indonesia melalui kedubes RI ataupun Konjen RI. Selama ini memang temen-temen di Jepang ini kesusahan untuk menyalurkan zakatnya, karena tidak ada lembaga yang mengumpulkannya selain itu kalaupun sudah terkumpul di masjid mereka kesulitan menyalurkannya karena masyarakat di Jepang sudah hidup makmur, tidak ada yang mau menerima zakat ataupun shodaqoh. Oleh karena itu PKPU mencoba untuk memberikan jalan keluar dengan menyalurkan zakat mereka kepada masyarakat di Indonesia yang masih membutuhkan
Bersama pak Erwin
Setelah mendengarkan cerita dan pengalaman temen-temen tentang kondisi dan keadaan di Tokushima dan Kochi, pak Edy dan pak Yudhi ikut beri’tikaf di masjid Tokushima bersama kami. Malam itu sebelum makan sahur kita mengerjakan sholat Tahajjud dan setelah sahur dilanjutkan sholat Shubuh dan diakhiri dengan tadarus dan doa, kemudian beristirahat untuk selanjutnya mengantarkan pak Edy dan pak Yudhi ke Stasiun Tokushima, baru kembali ke Kochi.
Subhanallah, terimakasih ya Allah, telah memberikan aku kesempatan untuk beritikaf dan mengenal banyak saudara muslim, semoga engkau menguatkan persaudaran ini dan mempertemukan kami semua di surgaMu, Amiin ya robbal alamin
Minuman di Jepang
Rasanya belum lengkap klo kemarin udah nulis tentang <span>makanan di Jepang</span>, maka kali ini aku mau melengkapi dengan tulisan tentang minuman juga. Bagaimanapun juga keduanya merupakan sesuatu yang tidak bisa terpisahkan, ada makanan ada minuman. Mau tau seperti apa kondisi minuman di Jepang. Silahkan baca sepenggal tulisan dari ku
1. Mudah kok dapet minuman
Semua air kran yang ada di Jepang layak dan dapat diminum, jadi jangan khawatir bakalan sakit perut atau diare, aman kok bro. Jadi kita ga bakalan kesusahan menemukan lokasi yang ada kran atau air minum, di tempat-tempat umum seperti stasiun, tempat keramaian/pusat kota atau lokasi wisata ada air minum, tinggal buka mulut aja minum deh. Cuma klo kita melakukan perjalanan dan khawatir akan kehausan di jalan perlu juga kita bawa persediaan air minum dalam kemasan, buat jaga-jaga dan buat menghemat juga. Tadinya kupikir hanya di negara-negara besar dan maju aja dimana kita dapat langsung minum air dari kran, ternyata temanku dari Namibia (negara di Afrika) dan St. Kitts n nevis (negara di Karibia) mengatakan bahwa di negara mereka dapat langsung minum air dari kran, dalam hatiku "wah, masa kita kalah ama Namibia n St.Kitts" di Indonesia klo kita minum langsung dari kran bisa sakit perut, lah wong airnya penuh kuman dan bakteri juga tinggi kandungan kaporitnya.
2. Vending machine untuk minuman ada di sembarang tempat.
Hampir di setiap sudut di jepang ini pasti kita liat ada vending machine untuk pembelian minuman. Di tempat parkir, di pusat keramaian, di stasiun, di mal-mal, di kampus, di mana aja dapat dengan mudah kita temukan vending machine yang menyediakan minuman. Jadi jangan khawatir deh, yang penting bawa duit aja di jamin ga kehausan. Bahkan di tempat yang terpencil yang mungkin ga setiap hari orang kesana, hanya waktu-waktu tertentu, seperti di tempat parkir mau ke pantai ada juga vending machine.
Mungkin klo vending machine ini ada di Indonesia dan ditaruh di luar gedung seperti di tempat parkir atau perempatan jalan pasti udah habis di jarah dan dirusak orang, liat aja nasib telpon umum, pasti banyakan yang rusak daripada yang baiknya. Aku pernah liat vending machine minuman di RS.Fatmawati tapi udah di coba berkali-kali tetep aja ga bisa, setelah kutanya satpam yang jaga, katanya harus “pake uang yang masih baru” klo pake uang yang agak lecek ga bisa (lah…ribet amat).
3. Harga jangan dibandingkan dengan di Indonesia
Harga minuman di vending machine bermacam-macam berkisar 110 yen ampe 150 yen tergantung jenis minumannya. Untuk yang paling murah tentu saja air mineral sekitar 110 yen, yang lain seperti softdrink seperti fanta, coca-cola sekitar 120 yen, minuman yang lain seperti pocari sweat, vitamin C, teh hijau sekitar 150 yen.
Jadi Kalau dibandingkan dengan di Indonesia wah jauh banget harganya bro, di Indonesia sebotol air mineral sekitar Rp 2.000 sedangkan di Jepang air mineral klo di rupiahkan berarti harganya Rp 11.000,-. Makanya sangat disarankan klo mau berhemat sebaiknya bawa minum sendiri, kemanapun kita pergi, klo nanti botolnya kosong, kan bisa di isi air kran (he…he..)
4. Minuman beralkohol, soft drink, jus, kopi (panas-dingin) dll
Minuman beralkohol di vending machine juga tersedia, disini di jual bebas klo yang ini ada vending machine khusus minuman beralkohol harganya sekitar 150 yen ampe 300 yen, tergantung ukurang kaleng minumannya, ada berbagai pilihan seperti asahi, kirin, lager beer dll. Oh ya klo mau minuman panas juga ada loh seperti kopi, coffe mix, cappuccino ada juga vending machinenya, klo yang ini harganya agak murah dibawah 100 yen tapi cuma gelas kecil doank kayak cangkir.
Ini pengalamanku waktu pertama kali “Opening Ceremony” waktu itu kupikir bakalan disediakan “coffe break” seperti di Indonesia, dimana tersedia kopi / teh, makanan ringan seperti snack dan kue-kue. Ternyata ga ada sama sekali bro, setelah selesai “Opening Ceremony” ya udah selesai, ramah tamahnya ga pake minum ga pake kue, garing-an gitu. Jadi, kalau mau kopi atau teh ya ke vending machine klo mau kue, ya beli sendiri (he….he….).
5. Ga ada pedagang asongan
Dijamin ga bakalan ketemu ama pedagang asongan yang jualan minuman seperti di Indonesia, “yang haus, yang haus, aqua, mizone pak” “dipilih-dipilih” (suara khas pedagang diatas kereta dan stasiun) ga bakaln terdengar disini. Di Jepang, tugas pedagang asongan telah digantikan oleh vending machine. Jadi ga bakalan ada pedagang asongan yang kadang-kadang klo kita lagi butuh dia ngasih harga sembarangan ga sesuai standar, di sini harganya udah ada.
6. Jangan lupa ambil kembalian
Kadang-kadang kita ga punya uang receh atau uang yang pas dengan harga minuman yang kita beli maka kita menggunakan uang pecahan 1.000 yen, so jangan lupa ambil kembaliannya dengan memutar knop untuk mengambil kembalian. Klo lupa ambil kembalian dan kita udah pergi maka kembalian itu bisa diambil orang lain.
1. Mudah kok dapet minuman
Semua air kran yang ada di Jepang layak dan dapat diminum, jadi jangan khawatir bakalan sakit perut atau diare, aman kok bro. Jadi kita ga bakalan kesusahan menemukan lokasi yang ada kran atau air minum, di tempat-tempat umum seperti stasiun, tempat keramaian/pusat kota atau lokasi wisata ada air minum, tinggal buka mulut aja minum deh. Cuma klo kita melakukan perjalanan dan khawatir akan kehausan di jalan perlu juga kita bawa persediaan air minum dalam kemasan, buat jaga-jaga dan buat menghemat juga. Tadinya kupikir hanya di negara-negara besar dan maju aja dimana kita dapat langsung minum air dari kran, ternyata temanku dari Namibia (negara di Afrika) dan St. Kitts n nevis (negara di Karibia) mengatakan bahwa di negara mereka dapat langsung minum air dari kran, dalam hatiku "wah, masa kita kalah ama Namibia n St.Kitts" di Indonesia klo kita minum langsung dari kran bisa sakit perut, lah wong airnya penuh kuman dan bakteri juga tinggi kandungan kaporitnya.
2. Vending machine untuk minuman ada di sembarang tempat.
Hampir di setiap sudut di jepang ini pasti kita liat ada vending machine untuk pembelian minuman. Di tempat parkir, di pusat keramaian, di stasiun, di mal-mal, di kampus, di mana aja dapat dengan mudah kita temukan vending machine yang menyediakan minuman. Jadi jangan khawatir deh, yang penting bawa duit aja di jamin ga kehausan. Bahkan di tempat yang terpencil yang mungkin ga setiap hari orang kesana, hanya waktu-waktu tertentu, seperti di tempat parkir mau ke pantai ada juga vending machine.
Mungkin klo vending machine ini ada di Indonesia dan ditaruh di luar gedung seperti di tempat parkir atau perempatan jalan pasti udah habis di jarah dan dirusak orang, liat aja nasib telpon umum, pasti banyakan yang rusak daripada yang baiknya. Aku pernah liat vending machine minuman di RS.Fatmawati tapi udah di coba berkali-kali tetep aja ga bisa, setelah kutanya satpam yang jaga, katanya harus “pake uang yang masih baru” klo pake uang yang agak lecek ga bisa (lah…ribet amat).
3. Harga jangan dibandingkan dengan di Indonesia
Harga minuman di vending machine bermacam-macam berkisar 110 yen ampe 150 yen tergantung jenis minumannya. Untuk yang paling murah tentu saja air mineral sekitar 110 yen, yang lain seperti softdrink seperti fanta, coca-cola sekitar 120 yen, minuman yang lain seperti pocari sweat, vitamin C, teh hijau sekitar 150 yen.
Jadi Kalau dibandingkan dengan di Indonesia wah jauh banget harganya bro, di Indonesia sebotol air mineral sekitar Rp 2.000 sedangkan di Jepang air mineral klo di rupiahkan berarti harganya Rp 11.000,-. Makanya sangat disarankan klo mau berhemat sebaiknya bawa minum sendiri, kemanapun kita pergi, klo nanti botolnya kosong, kan bisa di isi air kran (he…he..)
4. Minuman beralkohol, soft drink, jus, kopi (panas-dingin) dll
Minuman beralkohol di vending machine juga tersedia, disini di jual bebas klo yang ini ada vending machine khusus minuman beralkohol harganya sekitar 150 yen ampe 300 yen, tergantung ukurang kaleng minumannya, ada berbagai pilihan seperti asahi, kirin, lager beer dll. Oh ya klo mau minuman panas juga ada loh seperti kopi, coffe mix, cappuccino ada juga vending machinenya, klo yang ini harganya agak murah dibawah 100 yen tapi cuma gelas kecil doank kayak cangkir.
Ini pengalamanku waktu pertama kali “Opening Ceremony” waktu itu kupikir bakalan disediakan “coffe break” seperti di Indonesia, dimana tersedia kopi / teh, makanan ringan seperti snack dan kue-kue. Ternyata ga ada sama sekali bro, setelah selesai “Opening Ceremony” ya udah selesai, ramah tamahnya ga pake minum ga pake kue, garing-an gitu. Jadi, kalau mau kopi atau teh ya ke vending machine klo mau kue, ya beli sendiri (he….he….).
5. Ga ada pedagang asongan
Dijamin ga bakalan ketemu ama pedagang asongan yang jualan minuman seperti di Indonesia, “yang haus, yang haus, aqua, mizone pak” “dipilih-dipilih” (suara khas pedagang diatas kereta dan stasiun) ga bakaln terdengar disini. Di Jepang, tugas pedagang asongan telah digantikan oleh vending machine. Jadi ga bakalan ada pedagang asongan yang kadang-kadang klo kita lagi butuh dia ngasih harga sembarangan ga sesuai standar, di sini harganya udah ada.
6. Jangan lupa ambil kembalian
Kadang-kadang kita ga punya uang receh atau uang yang pas dengan harga minuman yang kita beli maka kita menggunakan uang pecahan 1.000 yen, so jangan lupa ambil kembaliannya dengan memutar knop untuk mengambil kembalian. Klo lupa ambil kembalian dan kita udah pergi maka kembalian itu bisa diambil orang lain.
Bersepeda di Jepang
Kriing-kriing ada sepeda, sepedaku roda dua kudapat dari ayah karena rajin bekerja. Demikian lirik lagu yang masih kuingat ketika aku kecil dulu waktu dapat sepeda untuk pertama kalinya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu sepeda kutinggalkan dan beralih ke sepeda motor, mungkin sama juga dengan yang dialami anak sekarang, atau malahan mereka ga mengalami masa naik sepeda, karena langsung naik motor, ironisnya sepeda motor merupakan kendaraan yang paling tidak aman dan paling sering terjadi kecelakaan
Tidak demikian halnya di Jepang, semua usia, baik anak-anak, remaja, orang dewasa maupun manula semua naik sepeda. Akan dengan mudah kita lihat di setiap sudut kota ini ada orang naik sepeda. Pagi hari saat mulai masuk sekolah maka hampir semua anak sekolah naik sepeda ke sekolahnya, baik itu SD, SMP, SMA maupun yang kuliah juga naik sepeda. Bahkan beberapa pekerja menggunakan pakaian rapi kemeja dan setelan jas naik sepeda dengan santainya.
Mungkin kalo di Indonesia kita naik sepeda yang ada keranjang di depannya kita akan merasa malu dan semua orang juga akan melihat kita, tapi di jepang sepeda dengan keranjang sangat berguna dan bermafaat. Kita dapat menaruh tas dan barang bawaan kita di keranjang, dapat juga menaruh barang belanjaan. Berbagai macam sepeda di rancang sesuai kebutuhan, untuk ibu-ibu yang punya anak bayi maka di belakang sadelnya ada boncengan kusi untuk anak bayi sementara di bagian depannya ada keranjang untuk menaruh barang belanjaan. Jadi sembari belanja anak tetap terjaga dari jangkauan tanpa kesulitan mengendarai sepeda.
Hampir semua orang di Jepang punya sepeda, walaupun mereka memiliki mobil yang terparkir di garasinya, tetapi sepeda tetap ada dan lebih sering digunakan kalo untuk jarak dekat misalnya ke supermarket atau ke toko-toko jika ingin berbelanja. Kalo di Indonesia orang bersepeda dikaitkan dengan status sosial, masih untung bersepeda daripada jalan, masih untung bersepeda motor daripada sepeda ontel, dst. Mind set kita sepertinya harus diubah bahwa kita naik sepeda bukan karena ga ada kendaraan lain melainkan ingin melakukan sesuatu untuk mengurangi polusi dan bagian dari olahraga tubuh.
Akan tetapi sepertinya sangat sulit untuk bersepeda di Indonesia, bagaimana mau bersepeda kalo jalurnya harus digabung dengan sepeda motor dan mobil wah bukan mengurangi polusi malah kita jadi sasaran polusi dari kendaraan lain. Di Jepang ini semua jalan dilengkapi jalur khusus untuk sepeda dan pejalan kaki. Jadi ga usah gusar dan ragu, klo mau kemana aja selama masih kuat ya bersepeda aja, aman dan menyehatkan.
Lagipula di Jepang ini sangat jarang sekali orang naik sepeda motor, mungkin bisa dihitung dengan jari orang yang naik sepeda motor, mungkin delivery order, anak kuliahan atau penggemar Harley Davidson, selain itu sangat jarang sekali. Aneh, kenapa di Indonesia justru motor-motor Jepang luar biasa banyaknya, padahal di negeri asalnya sepeda motor jarang sekali digunakan di Jepang? Model sepeda motor yang sedang ngetren di Indonesia-pun ga pernah kulihat di Jepang, yang ada disini cuma motor-motor model lama yang kecil cc-nya mungkin cuma 50-60 cc, jadi kecepatannya-pun hanya berkisar 40-50 km/jam.
Sepeda di Jepang ini sangat banyak sekali dan bahkan kita dapat melihat sepeda-sepeda tak bertuan, entah itu di pinggir jalan di tempat parkir deket stasiun, tempat parkir di kamus dll. Sebagian besar sepeda yang tidak bertuan itu, dipenuhi karat atau bannya kempes. Mungkin kata orang jepang “daripada gw nuntun sepeda bocor mendingan beli baru aja” atau mungkin lupa letakkan kuncinya dimana “ daripada dongkel-dongkel kunci sepeda mending beli baru aja” atau barangkali mereka memang sengaja menaruh banyak sepeda di berbagai tempat agar nantinya klo ke tempat ini lagi, dia ada sepeda untuk kemana-mana, karena aku lihat di stasiun kochi sepeda-sepeda itu ga berkurang jumlahnya walaupun udah jam 12 tengah malam dimana udah ga ada lagi kereta datang dan pergi.
Klo ada yang nanya berapa sih harga sepeda di jepang, mungkin harganya bervariatif berkisar 5.000 yen sampai 20.000 yen (1 yen = Rp.100). Itu tergantung dari model, kegunaan, ada giginya ato tidak dsb. Model sepeda balap dan sepeda gunung jarang di temui dan hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan sepeda itu, yang paling umum tentu saja sepeda dengan keranjang di depannya. Tapi satu hal yang pasti semua sepeda di Jepang wajib dilengkapi dengan lampu, dan harus dinyalakan ketika malam hari.
Klo lihat orang-orang bersepeda sepertinya aku bakal merindukan hal sepert ini terwujud di Indonesia, dimana sebagian besar orang menggunakan sepeda sebagai transportasi, selain bebas dari polusi juga menyehatkan badan, semoga dapat segera terwujud, yuk kita bersepeda.
Tidak demikian halnya di Jepang, semua usia, baik anak-anak, remaja, orang dewasa maupun manula semua naik sepeda. Akan dengan mudah kita lihat di setiap sudut kota ini ada orang naik sepeda. Pagi hari saat mulai masuk sekolah maka hampir semua anak sekolah naik sepeda ke sekolahnya, baik itu SD, SMP, SMA maupun yang kuliah juga naik sepeda. Bahkan beberapa pekerja menggunakan pakaian rapi kemeja dan setelan jas naik sepeda dengan santainya.
Mungkin kalo di Indonesia kita naik sepeda yang ada keranjang di depannya kita akan merasa malu dan semua orang juga akan melihat kita, tapi di jepang sepeda dengan keranjang sangat berguna dan bermafaat. Kita dapat menaruh tas dan barang bawaan kita di keranjang, dapat juga menaruh barang belanjaan. Berbagai macam sepeda di rancang sesuai kebutuhan, untuk ibu-ibu yang punya anak bayi maka di belakang sadelnya ada boncengan kusi untuk anak bayi sementara di bagian depannya ada keranjang untuk menaruh barang belanjaan. Jadi sembari belanja anak tetap terjaga dari jangkauan tanpa kesulitan mengendarai sepeda.
Hampir semua orang di Jepang punya sepeda, walaupun mereka memiliki mobil yang terparkir di garasinya, tetapi sepeda tetap ada dan lebih sering digunakan kalo untuk jarak dekat misalnya ke supermarket atau ke toko-toko jika ingin berbelanja. Kalo di Indonesia orang bersepeda dikaitkan dengan status sosial, masih untung bersepeda daripada jalan, masih untung bersepeda motor daripada sepeda ontel, dst. Mind set kita sepertinya harus diubah bahwa kita naik sepeda bukan karena ga ada kendaraan lain melainkan ingin melakukan sesuatu untuk mengurangi polusi dan bagian dari olahraga tubuh.
Akan tetapi sepertinya sangat sulit untuk bersepeda di Indonesia, bagaimana mau bersepeda kalo jalurnya harus digabung dengan sepeda motor dan mobil wah bukan mengurangi polusi malah kita jadi sasaran polusi dari kendaraan lain. Di Jepang ini semua jalan dilengkapi jalur khusus untuk sepeda dan pejalan kaki. Jadi ga usah gusar dan ragu, klo mau kemana aja selama masih kuat ya bersepeda aja, aman dan menyehatkan.
Lagipula di Jepang ini sangat jarang sekali orang naik sepeda motor, mungkin bisa dihitung dengan jari orang yang naik sepeda motor, mungkin delivery order, anak kuliahan atau penggemar Harley Davidson, selain itu sangat jarang sekali. Aneh, kenapa di Indonesia justru motor-motor Jepang luar biasa banyaknya, padahal di negeri asalnya sepeda motor jarang sekali digunakan di Jepang? Model sepeda motor yang sedang ngetren di Indonesia-pun ga pernah kulihat di Jepang, yang ada disini cuma motor-motor model lama yang kecil cc-nya mungkin cuma 50-60 cc, jadi kecepatannya-pun hanya berkisar 40-50 km/jam.
Sepeda di Jepang ini sangat banyak sekali dan bahkan kita dapat melihat sepeda-sepeda tak bertuan, entah itu di pinggir jalan di tempat parkir deket stasiun, tempat parkir di kamus dll. Sebagian besar sepeda yang tidak bertuan itu, dipenuhi karat atau bannya kempes. Mungkin kata orang jepang “daripada gw nuntun sepeda bocor mendingan beli baru aja” atau mungkin lupa letakkan kuncinya dimana “ daripada dongkel-dongkel kunci sepeda mending beli baru aja” atau barangkali mereka memang sengaja menaruh banyak sepeda di berbagai tempat agar nantinya klo ke tempat ini lagi, dia ada sepeda untuk kemana-mana, karena aku lihat di stasiun kochi sepeda-sepeda itu ga berkurang jumlahnya walaupun udah jam 12 tengah malam dimana udah ga ada lagi kereta datang dan pergi.
Klo ada yang nanya berapa sih harga sepeda di jepang, mungkin harganya bervariatif berkisar 5.000 yen sampai 20.000 yen (1 yen = Rp.100). Itu tergantung dari model, kegunaan, ada giginya ato tidak dsb. Model sepeda balap dan sepeda gunung jarang di temui dan hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan sepeda itu, yang paling umum tentu saja sepeda dengan keranjang di depannya. Tapi satu hal yang pasti semua sepeda di Jepang wajib dilengkapi dengan lampu, dan harus dinyalakan ketika malam hari.
Klo lihat orang-orang bersepeda sepertinya aku bakal merindukan hal sepert ini terwujud di Indonesia, dimana sebagian besar orang menggunakan sepeda sebagai transportasi, selain bebas dari polusi juga menyehatkan badan, semoga dapat segera terwujud, yuk kita bersepeda.
Langganan:
Postingan (Atom)