Selasa, 28 September 2010

Nagoya Port Aquarium

Mulai hari ini tanggal 27 September hingga tanggal 6 Oktober para peserta JICA training Management Stock and Enhancement at The Sea akan memulai tour keliling Nagoya dan Tokyo, 3 hari di Nagoya dan 7 hari di Tokyo. Jadwalnya sangat padat, so begitu sampai di Nagoya langsung kita menuju ke Nagoya Port Aquarium setelah menitipkan barang sebentar di Daiwa Roynet Hotel Nagoya tempat kita akan menginap.


Jalan kaki dari hotel menuju ke Stasiun Nagoya ditempuh sekitar 5 menit, kemudian dari stasiun Nagoya naik subway ke stasiun Sakae, selanjutnya pindah ke subway di jalur lain yang menuju ke Stasiun Nagoyako harga tiketnya 260 yen. sampai di Nagayako jalan sebentar menuju ke Nagoya port Aquarium.


Biaya masuk ke dalam aquarium ini untuk orang dewasa 2000 yen, tapi karena kita bersama dengan petugas yang bekerja di Aquarium tsb, jadi kita masuknya gratis. Aquarium ini didirikan pada tahun 1993 dan merupakan salah satu aquarium terbesar di dunia. Aquarium ini terdiri dari dua gedung yaitu gedung utara dan dan gedung selatan. Koleksi yang ada di Aquarium Nagoya ini berjumlah sekitar 200 jenis ikan dan mamalia yang di peroleh dari perairan Jepang, perairan tropis, perairan Australia dan perairan Antartika. Sumber air yang digunakan untuk mengisi aquarium berasal dari pantai yang ada di Nagoya yang telah dilakukan treatment terlebih dahulu.


Kalau kita masuk dari gedung utara pertama kali kita akan melihat aquarium Paus pembunuh (Orcinus orca). Meskipun namanya paus pembunuh, tetapi orca ini sebenarnya adalah salah satu dari keluarga lumba-lumba (Delphinidae). Dengan panjang rata-rata tujuh meter, menjadikan orca keluarga lumba-lumba terbesar didunia. Nama paus pembunuh diberikan, karena orca memakan berbagai jenis ikan besar, anjing laut, singa laut, hiu dan paus. Wauw keren sekali ada Aquarium yang berisi Paus pembunuh. Kalau kita berjalan terus mengelilingi gedung Utara maka kita akan menemukan ikan-ikan yang lain yang besar-besar seperti lumba-lumba dan dugong.

Di gedung utara pada lantai 2 kita akan menemukan replika paus pembunuh, lumba-lumba dugong dan juga ikan-ikan berukuran besar lainnya. Selain itu juga terdapat berbagai macam informasi-informasi tentang ikan dan mamalia tersebut, semuanya tertulis dalam bahasa Jepang, sughoi.


Di lantai 3 ternyata dari sini kita dapat melihat permukaan air dari aquarium yang ada di lantai 1, sepertinya ini merupakan tempat pertunjukkan untuk lumba-lumba, tempat duduknya seperti stadion melingkar. Mungkin pertunjukan hanya dilangsungkan pada hari libur atau hari-hari tertentu saja, karena hari ini tidak ada pertunjukan apa-apa.


Di gedung selatan kita akan melihat ikan yang lebih kecil dari perairan tropis, ikan-ikan ini dalam kondisi yang bergerombol / berkelompok. Jenis ikan ini dari ikan karang, ikan hias, ikan pari dan ikan-ikan kecil lainnya. Penyu laut dari ukuran yang paling kecil hingga paling besar ada di masing-masing aquarium di gedung selatan lantai 1.

Kalau kita naik ke lantai dua maka ada kesempatan kita untuk melihat petugas memberi makan pada penyu-penyu yang ada di aquarium. Kita diberi kesempatan untuk masuk ke kolam pembenihan penyu, ternyata penyu-penyu yang ada di aquarium Nagoya dipijahkan dan dibesarkan di kolam ini. Butuh waktu kurang lebih 2 bulan untuk memendam dan menunggu hingga telur penyu itu menetas, kemudian penyu akan di pindahkan ke bak-bak kecil yang ada di sekitar kolam. Makanan penyu ini adalah ikan, cumi-cumi dan kerang yang dicacah-cacah sehingga pas dengan mulut penyu.


Di lantai 2 ini juga dapat kita lihat ikan-ikan Laut Dalam yang bersinar dan mengeluarkan cahaya. Selain itu juga ada aquarium yang berisi berbagai jenis ikan laut yang ada di Jepang seperti ikan tuna, ikan sebelah, ikan ekor kuning, dsb. Pada lantai 3 lebih menarik, kita akan melihat koleksi ikan air tawar dari Australia dan koleksi hewan dari antartika yaitu penguin.


Oh ya, ketika jalan-jalan bersama teman-teman JICA ada teman yang mengajukan pertanyaan, “Kenapa Beruang Kutub tidak pernah memakan penguin? Ha..ha..pertanyaan yang aneh, akan selalu kuingat pertanyaan ini.

Jalanan di Jepang

Salah satu yang mendukung kelancaran dalam transportasi adalah sarana yang baik. Jalan raya merupakan sendi yang tak terpisahkan guna mendukung kelancaran dan kenyamanan dalam berlalu-lintas. Sebagai salah satu negara maju yang memiliki transportasi yang baik dengan teknologi yang modern Jepang juga memiliki jalanan yang boleh dikatakann sangat aman, baik untuk yang berkendara maupun yang berjalan kaki


Kebanyakan jalan raya di Jepang dilapisi aspal, hanya sedikit saja jalanan yang dibeton. Walaupun begitu jalan disini rata, tidak ada lobang yang “menganga”, tidak ada aspal yang “retak-retak” ataupun aspal yang bergelombang seperti di Indonesia. Padahal kalau boleh dikatakan jalanan disini mengalami 4 musim, ketika musim dingin akan sangat dingin sekali dengan suhu mencapai < 10oC dan ketika musim panas suhunya mencapai > 40oC, dengan cuaca yang sangat ekstrim seperti itu tidak ada jalanan yang rusak disini. Selain itu kendaraan yang lalu-lalang juga tidak kalah besar dan banyak seperti di Indonesia. Jadi kenapa ya jalanan di Indonesia sering rusak dan berlobang?



Tidak seperti di Indonesia dimana setiap jalan-jalan besar memiliki nama, entah itu nama pahlawan, nama orang yang berjasa, nama buah-buahan, nama bunga dsb. Di Jepang jalanannya tidak memiliki nama, yang ada hanya kode berupa angka-angka atau nomer seperti 32, 37, 197, 56 dan sebagainya. Jadi kalau kita mau berpergian ke suatu lokasi tinggal lihat di peta, lokasi yang kita tuju ada pada nomer berapa ikuti terus dan kita akan sampai di lokasi itu. Kode angka ini tidak hanya dalam kota saja, melainkan juga sampai keluar kota dan menghubungkan prefecture-prefecture di Jepang.


Apabila kita melakukan perjalanan ke luar kota, kita akan banyak sekali menemukan terowongan, Terowongan di Jepang merupakan hal yang biasa dan lumrah, mengingat kondisi alamnya yang berupa perbukitan. Pada saat kita akan melewatinya, kita akan melihat nama terowongan, dan panjangnya. Diatas terowongan itu masih tetap berupa perbukitan dan ditumbuhi berbagai macam pepohonan sehingga di dalam terowongan terasa sejuk dan terkadang masih terlihat rembesan airnya.


Jangan kaget dan heran kalau malam hari kita keluar kota atau di pinggiran kota, kita akan jarang sekali menemukan lampu jalanan di Jepang. Mungkin ini salah satu cara dari pemerintah Jepang untuk menghemat listrik. Walaupun begitu tidak usah khawatir akan jalanan yang berlobang atau jalanan yang rusak, karena sampai di pelosok-pun jalanannya tetep bagus dan rata. Selain itu tingkat kriminalitas di Jepang juga sangat rendah dan jarang terjadi, so walaupun jalanan gelap-gulita tetep aman-aman saja.



Hebatnya di Jepang ini adalah kita akan menemukan jalur berwarna kuning di sepanjang trotoar di Jepang dan juga di pusat-pusat keramaian seperti stasiun, pusat perbelanjaan, terminal dll. Jalur kuning ini merupakan jalur yang di desain khusus untuk mereka yang tidak dapat melihat. Jalur ini sangat membantu sekali bagi mereka agar tetap pada jalannya, tidak akan kesasar atau khawatir akan nabrak sesuatu. Selain itu di pagar-pagar besi yang menempel pada tembok yang berfungsi sebagai pegangan baik untuk menaiki tangga atau menuruninya terdapat juga huruf braile sehingga mereka dapat mengetahui sedang berada di mana dan akan menuju kemana. Jadi walaupun kelihatan seperti pegangan besi biasa, tetapi memiliki keistimewaan tersendiri bagi mereka yang tidak dapat melihat.

Sunday Market Vs Pasar Cibinong

Pasar merupakan tempat pertemuan antara pedagang dan pembeli, pasar dapat berlangsung dimana saja. Di Jepang pola pasar yang diterapkan berbeda dengan di Indonesia, masyarakat Jepang mungkin tidak terlalu konsumtif seperti masyarakt Indonesia sehingga jarang kita temukan Mall-Mall gede yang bertebaran dimana-mana seperti di Indonesia. Tetapi ada yang menarik di negara maju ini, walaupun mereka telah maju dalam berbagai bidang, teknologi, perindustrian, transportasi, pembangunan dsb, tetapi mereka tidak meninggalkan konsep pasar tradisional. Dimana ada barang, pedagang, pembeli dan tawar-menawar, pasar itu dinamakan

Sunday MarketSesuai dengan namanya sunday market, pasar ini berlangsung hanya satu hari yaitu hari minggu. Tapi ini tidak sama dengan pasar minggu tempat aku dididik dan digembleng, memang namanya pasar minggu tapi selalu rame setiap hari, orang jualan ga kenal hari minggu, senin, selasa dst tetep aja jualan. Klo disini selain hari minggu, tidak akan kita temukan ada pedagang dan orang berjualan di lokasi tersebut. Konsep ini sangat mirip sekali dengan “Pasar Cibinong” karena aku tinggal di Bojong gede dan dekat dengan lokasi maka hampir setiap hari minggu aku dan istri ke pasar cibinong, yang lokasi dekat dengan PEMDA Cibinong.

Sunday market ini mengambil lokasi di jalanan yang paling sibuk di kota Kochi, dimana gedung-gedung tinggi berdiri, pusat-pusat perkantoran dan berdekatan dengan tempat wisata Kochi Castle. Kalau hari-hari kerja maka jalan ini sangat sibuk dan penuh dengan mobil bersliweran, beda kalo di pasar Cibinong jalanan yang digunakan kalo hari kerja sepi dan jarang kendaraan. Tapi polanya hampir sama dengan pasar Cibinong, pedagang berjualan di sepanjang jalan dari ujung jalan sampai dengan Kochi Castle kurang lebih 1 km, kalo di pasar Cibinong mungkin lebih panjang lagi bisa sampai 3 km.



Sunday market ini adalah salah satu jalan bagi para pedagang kaki-5 untuk menjajakan dagangannya. Kalau hari-hari biasa akan sulit sekali atau bahkan tidak mungkin kita temui pedagang kaki-5 menjajakan dagangan di kochi, baik di jalanan maupun di pusat-pusat keramaian, apalagi melihat pedagang keliling macam tukang bakso, soto, somay dsb. Jadi di sunday market ini benar-benar mereka manfaatkan untuk menggelar lapaknya. Beda kalo di pasar Cibinong, pedagangnya biasanya punya lapak juga di berbagai tempat seperti di pasar, di stasiun dan di pinggir jalan. Mungkin ada juga pedagang keliling yang ikut berpartisipasi di pasar Cibinong.



Kebanyakan yang dijajakan di Sunday Market adalah hasil-hasil perkebunan seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan bahan-bahan makanan dsb. Ada juga yang menjual pakaian, sepatu, sandal, tas dan souvenir-souvenir juga barang-barang antik dan barang-barang seken. Kalau di Pasar Cibinong beda lagi, mungkin ini pasar terlengkap yang pernah aku temui, semua barang disini ada,  dari dalaman sampe luaran, dari topi sampe kaos kaki, dari benda hidup sampe benda mati, dari yang kecil sampe yang besar, dari yang bisa dimakan sampe yang hanya jadi pajangan ada semua disini, tinggal kuatnya kita mencari dan menemukannya, karena lapaknya ga beraturan.


Sunday Market ini memang pasarnya orang Jepang, ada proses tawar-menawar disini, kalau memang kita menyukai suatu barang biasanya mereka akan mengurangi harganya dan kita juga boleh menawar sewajarnya. Kalau di tempat lain, bisa di gaplok kita kalo kita coba-coba menawar. Pandai-pandai kita menawar dan harus tau juga perbandingan dengan harga di toko, agar kita yakin dapat harga yang lebih murah daripada di toko.


Pedagang yang berjualan di Sunday Market ini kebanyakan para manula dan lansia yang mungkin menghabiskan waktunya di kebun, menanam sayur dan buah-buaha atau membuat kerajinana tangan untuk souvenir dan hiasan, jarang aku lihat ada anak muda yang gagah berjualan di sunday market ini. Kalau di pasar cibinong segala macam pedagang dapat kita temukan di sini, orang Padang, Batak, Jawa, Sunda dari berbagai usia yang muda, tua, lelaki, wanita wah macem-macem deh.


Sunday Market bebas dari pungli, ga ada pajak ataupun uang macam-macam seperti uang kebersihan, uang keamanan, uang administrasi dsb. Sangat berbeda sekali dengan pasar Cibinong kalau yang sudah pernah pasa cibinong pasti tau, hampir setiap jam ada aja orang yang berlagak “tentara” dengan pakaian mirip petugas keamanan, meminta pajak kepada setiap pedagang yang berjualan di pasar Cibinong, weleh…weleh….

Kochi Castle

Salah satu tempat bersejarah yang sering dikunjungi para wisatawan baik dari Jepang maupun wistawan asing adalah kochi castle. Kochi castle memang tidak sebesar Osaka castle. Tapi kochi castle merupakan salah satu bangunan bersejarah yang telah didirikan sejak 400 tahun yang lalu. Ada beberapa hal yang kita temukan ketika kita berkeliling di sekitar kochi castle, dan masing-masing memiliki sejarah tersendiri.



Patung Yamauchi Katsutoyo
Katsutoyo awalnya merupakan Jenderal di Toyotomi Hideyoshi, akan tetapi dia memberontak dan memenangkan peperangan pada tahun 1600 M. Sebagai hadiahnya dia mendapatkan kekuasaan di daerah Tosa dan menjadi Raja Tosa yang pertama dan mendirikan Kochi Castle. Lokasi patung Raja ini ada di bagian bawah saat pertama kali mau masuk ke Kochi castle



Ote-mon atau Gerbang utama
Adalah pintu pertama ketika memasuki Kochi Castle, dahulu dinamakan O-gomon atau gerbang besar akan tetapi sekarang diganti menjadi Ote-mon gerbang utama. Dahulu masyarakat umum seperti petani dan pedagang dilarang memasuki Kochi Castle. Sekarang siapa aja boleh masuk Kochi castle, tidak ada perbedaan, semuanya sama, kita harus berterimakasih kepada Ryoma Sakamoto yang telah memperjuangkan persamaan dan menghilangkan perbedaan kelas di masyarakat Jepang.



Ukiran pada batu
Banyak ditemukan ukiran-ukiran huruf jepang di dinding-dinding Kochi Castle. Ukiran ini dibuat di dinding Ote-mon, dan dinding yang lain dengan batu yang besar-besar.



Patung Itagaki Taisuke
Itagaki merupakan penasihat keluarga Yamauchi, dia mempunyai pengaruh penting dalam restorasi meiji dan modernisasi Jepang, dia hidup pada masa yang sama dengan Ryoma Sakamoto. Dia adalah pengacara pertama di Jepang dan juga pemimpin pengakan hak asasi manusia. Dia dibunuh ketika mengkampanyekan hak asasi manusia, pernyataannya yang terkenal “Itagaki boleh mati tetapi kemerdekaan akan tetap hidup. Selain itu dia juga ahli dalam memainkan pedang dan jagoan sumo. Lokasi patung ini ada di dekat gerbang masuk pertama.


Patung Istri Katsutoyo (Chiyo)
Chiyo menikah dengan Katsutoyo ketika berumur 17 tahun, ketika itu saat pasukan sedang melakukan latihan dan Jendral Katsutoyo sebagai pemimpin pasukan mengesankannya sehingga dia jatuh cinta dan menikah dengan Jenderal Katsutoyo. Patung ini didirikan sebagai suatu penghormatan kepada seorang wanita atas jasanya mendampingi Katsutoyo-Raja Tosa.

Batu saluran air
Kochi merupakan salah satu daerah yang sering terjadi hujan dan mengalami banjir, untuk mengalirkan air dan menjaga agar kastle tidak kebanjiran maka dibuatlah saluran air dari batu dan mengalirkannya ke sungai.



Batu Pertahanan
Ahli batu terkenal yang bernama Anoshu menyusun dan membuat batu pertahanan menggunakan metode nozura-zumi. Batu ini sangat kuat, walaupun pernah terjadi gempa besar yang mengguncang kochi pada tahun 1946, batu ini tidak mengalami kerusakan sedikitpun.

Shinobigaeshi
Apabila penyerangan secara frontal sulit dilakukan maka biasanya musuh akan mencoba mengirip penyusup, pencuri ataupun ninja secara diam-diam. Kalau ada penyusup yang mencoba masuk memanjat kochi castle maka harus berhati-hati karena ada besi-besi tajam di sekeliling bangunan. Selain itu dari lubang yang ada di dinding para prajurit akan batu-batu. Pertahanan Kochi castle dirancang sangat baik sehingga tidak ada satu sisi-pun yang dapat ditembus musuh maupun penyusup.


Honmaru atau Menara utama
Akhirnya setelah melewati beberapa tangga yang cukup banyak dan tinggi sampai juga kita di menara utama. Diantara semua castle yang ada di jepang, hanya Kochi Castle yang memiliki menara utama, Nishi dan Higashi Tamon (teras/halaman) dengan dinding batu di sebelah barat dan timurnya. Jodan no Ma adalah ruangan dimana sang raja menerima tamunya sedangkan di sebelah kirinya adalah Musha Kakushi tempat para prajurit samurai berjaga. Kondisi di dalam menara utama masih asli dan belum ada perubahan, kayu penyangga, pintu, lantai, dinding masih sama dengan 400 tahun lalu saat bangunan ini pertama kali didirikan, dahsyat…


Disalin dari brosur kochi Castle

“Khairun naasi anfa’uhum linnaas”

Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah salah satu hadist yang sering kita dengar. Aku ingin sekali mengamalkan hadist tersebut, banyak hal yang ingin kulakukan agar kehadiranku ini dapat meberikan manfaat bagi orang lain, kalaupun tidak dapat memberikan manfaat setidaknya kehadiranku janganlah mengganggu atau membuat orang lain tidak nyaman.


Sejak mulai bekerja di DKP pada tahun 2006, saat itu Dharma Wanita DKP menyelenggarakan donor darah. Waktu itu motivasiku hanya ikut-ikutan dan biar dapat makanan gratis. Tapi setelah aku resapi dan aku maknai ternyata donor darah ini memberikan manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan, maka mulai saat itu aku bertekad untuk selalu mendonorkan darahku setiap 3 bulan. Sebenarnya sejak kedatanganku di Jepang aku udah sampaikan kepada koordinatorku bahwa aku ingin donor darah di Jepang, karena memang sudah saatnya aku donor darah. Terakhir kali aku donor darah di Indonesia bulan april 2010, mungkin karena lupa atau sibuk dan juga adanya bulan Ramadhan maka baru kemaren 15 September 2010 keinginanku untuk donor darah terwujud, senang sekali rasanya, karena kehadiranku disini memberi manfaat dan aku dapat mengamalkan hadist tersebut.

Pada prinsipnya di Jepang tidak dibedakan antara pendonor darah orang Jepang dengan orang asing, semua perlakuannya sama. Akan tetapi sebelum melakukan donor darah ada beberapa prosedur yang disyaratkan seperti mengisi kuisioner dan menjawab pertanyaan seputar riwayat penyakit yang pernah kita derita, hal ini juga disyaratkan di Indonesia seperti kita ditanya tentang penyakit kuning, stroke, tekanan darah tinggi, kanker, HIV atau yang terkait dengan virus. Cuma perbedaannya kalau di Indonesia kita mengisi di kertas form yang disediakan PMI, kalau di Jepang kita mengisinya di komputer dan setelah selesai langsung di print.


Prosedur selanjutnya kita akan dipanggil untuk masuk ke ruang dokter, disini kita ditanya seputar kesehatan kita, apakah kita mengkonsumsi obat-obatan, minum-minuman beralkohol atau pernah sakit beberapa minggu yang lalu. Kita akan diperiksan tekanan darahnya dan akan dicek kesehatannya. Inilah yang juga merupakan keuntungan seorang pendonor darah, karena secara tidak langsung dia telah melakukan “general chek-up” terhadap tubuhnya, kalau dirasa kita kurang sehat atau dokter tidak yakin maka kita akan disuruh pulang, barangkali disuruh untuk mengurangi konsumsi makanan berlemak, atau disarankan untuk beristirahat yang cukup. Karena orang yang akan mendonorkan darahnya harus benar-benar dalam kondisi vit dan keadaan sehat.


Kalau dokter nyatakan oke maka kita masuk ruang pemeriksaan darah untuk diuji apakah darah kita memenuhi syarat atau tidak. Prosedurnya disini beda dengan di Indonesia, kalau di PMI Salemba, periksa darah dulu baru ke dokter kalau di Jepang ke dokter dulu baru darahnya di periksa. Setelah diambil sampel darahnya untuk di periksa kemudian kita akan naik di kursi donor darah. Disini hampir sama dengan di Indonesia cuma kalo di Jepang di sediakan televisi di depan kursi donor darahnya jadi sambil menunggu darah kita diambil kita dapat menonton televisi. Lumayan juga nih, karena kalau untuk donor darah paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.




Susternya baik dan ramah, dia berusaha mengajak ngobrol dan bercakap-cakap denganku, sayangnya dia menggunakan bahasa Jepang sedangkan aku hanya tau sedikit aja bahasa Jepang kalau diajak ngobrol pake bahasa Inggris dianya kagak ngerti, ya udahlah, aku ngangguk-ngangguk aja he…he…



Jumlah darah yang di donorkan berbeda antara di Indonesia dengan di Jepang. Kalau di Indonesia untuk yang memiliki bobot lebih dari 60 Kg maka akan diambil darahnya 350 ml sedangkan yang dibawah dari 60 Kg diambil 250 ml. Kalau di Jepang dengan bobot dibawah 50 kg diambil sebanyak 200ml sedangkan diatas 50 kg diambil 400ml. Jadi hari itu aku diambil darahnya 400 ml. Alhamdulilah, semoga aja darahku bermanfaat untuk kemanusiaan, amiin…


Waktu sedang donor darah salah satu susternya menanyakan “kalau di Indonesia katanya setelah selesai donor darah diberikan makanan ya?” aku jawab “iya memang PMI Indonesia menyediakan roti dan susu untuk yang selesai donor darah, tapi kalau disini ketentuannya berbeda ya, tidak usah repot-repot menyediakan untukku”, “bagiku bisa mendonorkan darahku aja aku udah senang” lanjutku, mereka-pun tersenyum. Kalau di Jepang hanya di sediakan minuman dan biskuit yang dapat kita ambil di vending machine segara gratis, selain itu juga di sediakan banyak buku-buku dan komik buat mereka yang selesai mendonorkan darahnya, sambil menunggu beberapa menit untuk pemulihan kondisi tubuh.

Biasanya di Indonesia setelah selesai donor darah maka kartu kita akan di cap tanggal dan tempat kita melakukan donor darah selain itu akan diberikan kertas pemberitahuan kapan kita akan mendonor darah berikutnya. Kalau di Jepang sistem kartunya seperti ATM ada pin-nya dan berisi semua data tentang diri kita, tanggal kita melakukan donor darah sudah tercantum, berapa darah kita yang didonorkan dan kapan waktu selanjutnya jika kita ingin mendonorkan darahnya. Sayangnya mungkin aku sudah pulang ke Indonesia untuk tanggal berikutnya karena tercantum 8 desember 2010, tak apalah, nanti donor darah di Indonesia juga bisa.


Buat temen-temen yang belum pernah donor darah, semoga menjadi terbuka hatinya dan tergerak untuk mendonorkan darahnya, kalian udah tahu kan hadistnya, tinggal mengamalkannya. Buat yang udah pernah/ udah sering mendonorkan darahnya semoga jadi tambah bersemangat dan terus rutin mendonorkan darahnya, semoga kelak ini akan menjadi catatan amal yang baik bagi kita, amiiin.

Karena pada dasarnya sel darah merah dalam tubuh kita hanya bertahan selama 120 hari dan kemudian akan dihancurkan yang selanjutnya tubuh akan membentuk sel darah merah yang baru. Kadang-kadang darah kotor yang ada dalam tubuh kita dikeluarkan dalam bentuk jerawat dan bisul, maka daripada keluar dalam bentuk itu lebih baik kita sumbangkan agar lebih bermanfaat bagi kita dan juga bagi orang lain.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Ryoma Sakamoto Sang Revolusioner

Setiap perubahan pasti akan memunculkan pahlawan yang akan selalu dikenang sebagai orang yang berperan dalam perubahan tersebut. Perubahan Jepang menjadi negara kuat adalah saat terjadi “resotari meiji” pada tahun 1868 dimana terjadi perubahan besar-besaran dalam segala aspek kehidupan di Jepang dari pemerintahan Shogun yang diktator kembali ke Kaisar. Dalam sejarah Jepang dikenal seorang samurai yang turut serta dalam melakukan perubahan fundamental itu, yang berasal dari Kochi yaitu Ryoma Sakamoto.



Ryoma adalah seorang samurai kelas bawah yang bersama dengan teman-temanya melakukan perubahan pada pemerintahan Jepang pada masa itu. Pada masa itu terdapat perbedaan kasta -yang dibuat oleh shogun- di masyarakat antara samurai, petani, tukang dan pedagang atau yang dikenal dengan "shi-Nou-kou-sho". Ryoma dilahirkan pada tahun 1835 di kochi atau yang dulu dikenal dengan domain feodal “Tosa”. Dia adalah putra bungsu dari keluarga pedagang yang kaya, ayahnya membeli hak untuk menjadi goshi samurai kelas bawah. Pada saat itu samurai itu dibagi menjadi dua kelas, Joshi dan goshi (Atas dan bawah).


Pada Usia 14 tahun (1849) dia berlatih kendo dan menjadi pemuda yang sangat berbakat dalam bidang tersebut sehingga di kirim ke sekolah samurai di Edo (Sekarang Tokyo). Pada waktu itu terdapat tiga (3) Klan kuat yaitu klan Satsuma dari Prefektur Kagoshima di Kyushu, Klan Chōshū dari Prefektur Yamaguchi di Honshu dan Klan Tosa dari Prefektur Kochi di Shikoku.


Pada Usia 19 tahun (1853) dia mendapatkan peringkat dua disekolahnya dan merupakan salah satu pemuda terkuat di kelasnya. Pada tahun yang sama juga ditandai dengan datangnya “black ship” 4 armada kapal hitam Amerika dengan Kommodor Mathew Perry sebagai pemimpinnya.

Ini merupakan titik awal Jepang dalam sejarah “Restorasi Meiji”, selama lebih kurang 200 tahun Jepang melaksanakan politik sakoku, menutup diri dari pengaruh asing. Ketika itu kommodor Perry datang dan ingin mengadakan kerjasama serta membuka pelabuhan Jepang untuk Internasional. Sebagai seorang samurai Ryoma juga ikut dalam barisan prajurit yang diperintahkan Kaisar untuk menjaga Teluk Edo, saat melihat besarnya kapal Amerika dan canggihnya tekhnologi yang digunakan, belum banyak orang jepang yang mengenal senjata api (pistol) pada waktu itu. Ryoma iri sekaligus ketakutan akan masa depan Jepang yang akan datang, dia juga menginginkan agar Jepang dapat memiliki kapal seperti “black ship” itu.




Pada tahun 1854 Ryoma pulang ke Tosa dan bertemu dengan seorang penulis buku bernama Kawade Shoryo, dia adalah penulis buku biografi “Nakahama Manjiro” seorang nelayan yang terdampar di Hawaii kemudian ditemukan oleh Kapten kapal pemburu ikan paus miliki Amerika lalu dibawa ke Amerika. Nakahama Manjiro merupakan orang Jepang pertama yang belajar di Amerika. Dia juga sempat bekerja di kapal ikan sebelum kembali ke Jepang dan menjadi penerjemah saat kedatangan Kommodor Perry. Cerita ini menginsipirasi Ryoma sehingga dia jadi tahu kebijakan ekonomi, sosial, politik dan keadaan Amerika. Ryoma kembali ke Edo dan menyelesaikan studinya pada tahun 1958.



Pada tahun 1862 Takechi teman Ryoma mendirikan kelompok di domain Tosa yang terdiri dari samurai kelas bawah. Mereka menginginkan perubahan/revolusi di klan Tosa, akan tetapi Ryoma menginginkan perubahan untuk seluruh Jepang, sehingga Ryoma memutuskan untuk tidak bergabung dan memilih bekerja bersama Katsu Kaishu seorang perwira berpangkat tinggi di pemerintahan shogun.


Pada Tahun 1863 Katsu mendirikan Akademi Angkatan Laut di kobe dan Ryoma ikut bergabung di dalamnya. Sekolah ini terdiri dari para ronin muda tanpa adanya perbedaan status social. Mereka sama seperti ryoma meninggalkan klan-nya untuk melakukan perubahan. Pada saat itu terjadi pemberontakan dari Klan Choshu kepada Kaisar dan banyak dari mereka adalah siswa di Akademi Angkatan Laut kobe sehingga Kaisar memutuskan untuk membubarkan Akademi Angkatan Laut ini



Pada tahun 1864 Ryoma dengan sekitar 20 teman-temannya pergi ke Nagasaki dan memulai "Kameyama Shachu" (perusahaan) yang kemudian dikenal sebagai “kaientai" (Naval Auxiliary Force). Kaientai ini disebut sebagai perusahaan pertama di Jepang. Perusahan ini bergerak dalam bidang perdagangan, ekspor-import dan persenjataan. Ryoma sangat cerdas dia mampu bekerjasama dan menjalin hubungan baik dengan Klan choshu dan klan Satsuma. Pada waktu itu klan choshu dilarang membeli senjata karena telah melakukan pemberontakan terhadap Kaisar, padahal mereka sangat membutuhkan senjata. Sedangkan Klan Satsuma membutuhkan bahan makanan yang berasal dari Klan choshu. Maka Ryoma mensiasatinya dengan membeli senjata atas nama klan Satsuma kemudian menukarkannya dengan makanan yang dimiliki klan Choshu. Semua ini tertuang dalam pakta kerjasama yang ditandatangani pada tahun 1986 secara diam-diam.



Ternyata hal ini tercium oleh pemerintahan shogun saat itu, mereka tahu bahwa Ryoma melakukan kerjasama dengan kedua klan tersebut untuk melakukan perubahan dan berusaha menggulingkan kekuasaan shogun, ketika Ryoma sedang menginap di sebuah penginapan di Kyoto. Ryoma diserang oleh para prajurit shogun, walaupun saat itu dia memiliki pistol tetapi karena banyaknya jumlah prajurit yang menyerangnya dia-pun lari menyelamatkan diri. Ryoma beruntung tidak mati dalam penyerangan itu, akan tetapi di mengalami luka yang cukup parah. Klan Satsuma menyelamatkan Ryoma dan merawat luka-lukanya hingga sembuh.



Bulan April tahun 1867 sebuah kapal dagang Ryoma ditenggelamkan oleh Klan Kishu yang merupakan kerabat dari shogun. Ryoma marah dan meminta ganti rugi, dia mulai memperkenalkan Hukum Laut Internasional dan meminta kasus tenggelamnya kapal dagang milik perusahaan-nya diselesaikan dengan Hukum Laut Internasional, dan akhirnya Ryoma mendapatkan ganti rugi yang cukup besar. Pada saat yang sama Ryoma juga menjalin kerjasama dengan penasehat domain Tosa Goto Shojiro. Klan Tosa ingin bergabung dengan Klan Choshu dan Klan Satsuma menjadi bagian dalam perubahan itu.



Akhirnya dengan dukungan dari ketiga klan tersebut maka Ryoma dan kelompoknya berhasil membuat shogun mengundurkan diri tanpa terjadi peperangan dan pertumpahan darah. Ide Ryoma untuk pemerintahan baru tertuang dalam  bukunya "Senchu Hassaku" atau Delapan point pemerintahan baru. Ryoma menyarankan agar kekuasaan dikembalikan kepada Kaisar. Agar harga emas dan perak disamakan dengan negara lain, mengikuti harga internasional Pada bulan Nopember 1867 Ryoma di bunuh di Kyoto oleh samurai kelas atas yang tidak menyukai sepak-terjang Ryoma, dia meninggal dalam usia 32 tahun.

Dia meninggal sebelum menyaksikan keberhasilan revolusi yang telah direncanakan. Perubahan terjadi ketika Kaisar Meiji naik tahta pada tahun 1968 saat itu Kaisar menghapus semua sistem yang dahulu di bentuk oleh shogun, Jepang masuk dalam era baru.


Selama masa peralihan dari shogun ke “restorasi meiji” dalam sejarah Jepang, banyak pahlawan yang berguguran. Perbedaan antara Ryoma dan yang lainnya adalah bahwa Ryoma memikirkan kesetaraan persamaan dan kebebasan sebagai seorang pemimpin dia sangat membenci perbedaan kelas, dia tidak pernah bekerja hanya untuk kepentingannya sendiri, dia sangat setia pada Kaisar . Dia adalah salah satu dari beberapa samurai yang memiliki visi dan misi yang jelas tentang masa depan serta memiliki pikiran yang terbuka itulah salah satu alasan mengapa dia begitu populer dikalangan anak muda Jepang.


Sebagai penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan nama Ryoma Sakamoto diabadikan sebagi nama Bandar udara di Kochi. Nama Ryoma saat ini lebih terkenal ketika dia telah meninggal daripada saat dia masih hidup, banyak barang menggunakan gambar Ryoma Sakamoto

Dikutip dari berbagai sumber

Pengalaman Lebaran Seorang Hajimete

Biasanya malam takbiran selalu rame dan sangat meriah, dimana-mana kita mendengarkan kumandang takbir, baik dari masjid-masjid, musola-musola dan takbir keliling. Kalau di Jakarta akan banyak kita lihat pemuda-pemuda berkonvoi naik kendaraan di jalan-jalan, kemudian beberapa orang menyalakan kembang api. Kalau di kampungku desa Gumingsir Banjarnegara, ada pawai obor keliling kampung, setelah itu biasanya akan dinyalakan petasan yang banyak sekali, dan besok pagi saat sholat Ied di jalanan akan penuh dengan sampah kertas dari petasan yang meledak. Kalau di Jepang tentu saja tidak ada takbir keliling, adanya takbiran sendiri di kamar, sambil dengerin gema takbir ust.Jefri Al Bukhori yang aku download dari youtube, tidak ada suara petasan, tidak ada kembang api dan juga tidak ada suara beduk. Rasanya pengen sms temen2 untuk mengucapkan selamat lebaran tapi di sini ga punya hp, pengen kirim-kirim kartu lebaran lewat pesbuk, tapi kok kayaknya udah banyak yang ngirim kayak gitu. Ya udah deh biar kelihatan beda sedikit aku rekam aja video dari webcamku dengan latar gema takbir ust. Jefri al Bukhori, kemudian upload di pesbuk. Semoga dapat sedikit mengobati rasa rinduku pada kampung halaman.




Sholat Idul Fitri di Jepang dilaksanakan di pelataran/halaman International House Kochi University, di daerah Manobe. Tempat sholanya bukan di dalam ruangan, karena memang sunahnya di tempat terbuka, selain itu juga di Kochi belum ada masjid. Mungkin karena lokasi para muslim-muslimat di kochi yang berjauhan maka sholat dimulai pukul 09.00, sudah agak siang memang tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Jamaahnya tidak banyak mungkin seluruhnya berjumlah hanya sekitar 30 orang bapak-bapak, ibu-ibu dan juga anak-anak, 2 shaf bapak-bapak, 1 shaf ibu-ibu dan anak-anak.. Memang masyarakat muslim di Kochi tidaklah banyak seperti di daerah lain, di sini komunitas muslimnya di dominasi oleh orang Indonesia dan Bangladesh, mereka rata-rata mahasiswa ada juga yang  pekerja, tapi tidak ada orang arab disini, baik Arab Saudi, Mesir, Yaman dan sekitarnya.

Imam kita adalah pak haji Erwin orang Indonesia, beliau biasa dipangil pak ustadz, beliau berceramah menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris walaupun panas, beliau tetap semangat dalam menyampaikan khutbah Idul Fitri, semoga Allah memberkahi beliau dan juga kita semua. Setelah khutbah kita bersalam-salaman dan saling memaafkan seperti tradisi kita di Indonesia, tapi tidak ada acara sungkeman disini, juga tidak ada silaturahmi ke rumah-rumah tetangga seperti yang bisa kita lakukan di Indonesia.


International House adalah apartemen yang disediakan oleh pihak universitas, khusus untuk mahasiswa asing yang sedang melaksanakan kuliah di kochi University. Terdapat gedung untuk mahasiswa yang masih single dan juga untuk yang sudah berkeluarga, walaupun begitu, ini tidaklah gratis tetap harus bayar sekitar 20.000 yen per bulan untuk yang sendirian dan 40.000 yen per bulan untuk yang bersama keluarga. Lanjutan acara setelah sholat Ied adalah makan bersama, tempatnya di rumah pak Iwan dan bu Rini.

Mantap, walaupun sedang berada di “Negeri Sakura” tetapi masakannya asli dari Indonesia, masakan dengan rasa Indonesia dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Banyak sekali orang-orang baru yang aku temui, mungkin rata-rata adalah ibu-ibu yang menikah dengan orang Jepang, bahkan anaknya pun sangat mirip orang jepang. Mereka adalah pekerja yang sudah menetap cukup lama di sini. Hari ini sebenarnya aku tidak libur, cuma dapat sedikit dispensasi masuk kuliah agak terlambat, setelah bersilatuharmi dan menikmati makanan, aku dan temanku Mourad ijin pamit mau kuliah kebetulan lokasi tempat kuliahku hari ini dekat International house jadi tinggal jalan sebentar.



Malam hari sebenarnya aku dan teman-teman JICA berencana akan jalan-jalan ke Obiyamachi untuk merayakan hari Idul Fitri. Tapi saat lagi online di YM pak de Parno ngajakin aku ke rumah pak Ustadz, pak haji Erwin, lokasinya lumayan jauh berada di Tosa Yamada. Wah gimana ya sebenarnya udah ada acara tapi.., ya udahlah dengan penuh pertimbangan sepertinya lebih baik ikut ke Tosa Yamada karena belum tentu aku punya kesempatan berkunjung ke rumah pak Ustadz lain waktu, sedangkan kalau ke Obiyamachi bisa kapan aja.


Rumah tempat pak Ustadz tinggal berbeda dengan yang lainnya, klo yang lain tinggal di Apato, maka pak Ustadz dan keluarganya tinggal di rumah model Jepang, ada halaman yang cukup luas di depan rumah, ada halaman di belakang rumah juga ada garasi dan halaman di samping rumah, wah luas banget rumahnya. Menurut pak Ustadz rumah ini dahulu di huni keluarga Jepang yang kegiatannya sehari-hari bertani, halaman belakang untuk persawahan, halaman samping untuk menanam sayur-sayuran dan halaman depan untuk menanam buah-buahan. Konstruksi bangunan dan pengairannya sangat teratur, pengairan untuk sawah suplai airnya sangat terjamin sepanjang musim tanam selain itu airnya juga bersih, antara air pembuangan dari rumah dengan air untuk mengairi sawah dibedakan selokannya. Orang tidak boleh membuang sampah di selokan, bahkan meludah sembarangan-pun dilarang. Selokan disini bersih walaupun itu air buangan dari rumah, tidak ada sisa nasi, sayuran dan sampah rumah tangga lainya. Tapi karena sekarang daerah itu sudah penuh dengan pemukiman maka halaman tadinya buat persawahan tidak lagi digunakan, hanya halaman samping yang masih beliau tanam dengan macam-macam sayuran seperti kacang panjang, sereh, bawang dsb. Menurut beliau wilayah disekitar tempat beliau tinggal merupakan lingkungan keluarga dan masih satu marga, jadi tetangganya sangat ramah dan baik. Beliau beruntung dapat menyewa rumah di wilayah ini, selain jauh dari kebisingan lokasinya juga sangat dekat dengan kampus tempat Istri beliau kuliah.




Mungkin kalian akan bertanya-tanya lalu siapa itu Hajimete? Hajimete bukanlah nama orang dan tidak ada kaitanya denga gelar haji yang biasa disematkan pada orang yang sudah menunaikan rukun islam yang kelima. Hajimete dalam bahasa Jepang berarti “baru pertama kali” jadi ini adalah pengalaman orang yang baru pertama kali lebaran di Jepang. Semoga bermanfaat